1.Tradisi Kebudayaan Tiongkok Dalam Kebijakan Luar Negerinya Di
Zaman Feodal
Sejak zaman dahulu Tiongkok adalah negara agraris yang terbesar,
terkuat dan termaju di Asia Timur dan tradisi kebudayaannya telah berdampak
luas ke negeri-negeri di sekitar. Secara ringkas tradisi kebudayaan
Tiongkok boleh diungkapkan dalam dua kata,iaitu berpangkal pada “?” dan
berakhir pada “?”. Apa yang dimaksudkan dengan kata “?”
itu?Konfusius (Kong Hu Zu) menjelaskan: “????” (“Yang dimaksudkan
dengan “?” ialah bersayang-sayangan”), iaitu antara manusia dengan
manusia hendaklah bersayang-sayangan. Kemudian Konfusius menandaskan lagi:
“????,????” (Apa yang diri sendiri tidak inginkan, janganlah
lakukan kepada orang lain) dan“??????,??????” (“Jika diri sendiri
ingin tumbuh, tumbuhkan pula orang lain; jika diri sendiri ingin makmur,
makmurkan pula orang lain). Dan kata “?” berarti
rukun-damai-harmonis, itulah yang dijadikan tujuan terakhir yang hendak dicapai melalui
upaya “?”. Maka Konfusius berkata: “???,???”(Dalam mengupayakan
tata kesopanan, yang diutamakan adalah rukun-damai-harmonis). Konfusius
menandaskan: “??????,??????”(Orang berbudi luhur menuntut
rukun-damai-harmonis dengan menampung keragaman. Orang berbudi rendah menuntut
keseragaman tanpa mengenal rukun-damai-harmonis). Dunia ini memang
multilateral dan pluralistis, tiap pihak mempunyai pendirian, sikap dan visi
sendiri berdasarkan keadaan dan kepentingan yang berbeda-beda. Hanya
dengan mengakui keragaman dalam perbedaan dan saling sayang-menyayangi,
hormat-menghormati, tenggang-menengang barulah bisa mencapai
rukun-damai-harmonis.. Sebaliknya kalau menolak keragaman dan tiap pihak menuntut
keseragaman dengan mengeksklusifkan pihak yang berlainan, maka dunia
akan penuh konflik dan permusuhan. Dilihat dari inti falsafahnya memang
banyak persamaan dengan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika
Di zaman feodal tradisi kebudayaan Tiongkok yang mengutamakan rukun-
damai-harmonis itu tentu tidak terlepas dari wawasan feodalisme yang
egosentris. Bangsa Tionghoa di zaman purba menganggap “Langit” adalah
yang maha kuasa dan maha pencipta. Langit telah mengutus Putranya untuk
menguasai jagat. Maka kaisar zaman feodal selalu menganggap dirinya
adalah “??” (Putra Langit)yang merajai seluruh jagat. Kaisar feodal
Tiongkok menganggap dirinya sebagai “Kaisar Sejagat” yang
berkewajiban membina rukun-damai-harmonis melalui hubungan yang disebut
“??-????”(Hubungan Negara Metropolitan dengan Negara Vasal melalui
Penyembahan Upeti). Menurut anggapan kaisar feodal, Tiongkok adalah “Negara
Atasan” yang berkewajiban melindungi keamaan dunia di sekitar, sedangkan
negara-negara di sekitar adalah “Negara Bawahan” yang merupakan
pagar pelindung. Bagi kaisar feodal Tiongkok yang penting adalah
kedudukannya sebagai “Kaisar Sejagat” diakui dan dijunjung oleh
negeri-negeri di sekitar melalui penyembahan upeti, dan untuk menggalakkan
penyembahan upeti kaisar Tiongkok menjalankan kebijakan “????”?(sembahan
sedikit dibalas anugerah banyak). Sedangkan bagi “Negara Vasal”,
yang penting adalah dengan menjunjung Tiongkok sebagai “Negara
Metropolitan” mereka akan mendapat pengiktirafan dan penganugerahan berlipat
ganda dari dinasti feodal Tiongkok, sehingga kedudukannya dan
keamanannya dapat dijamin oleh negara terbesar dan terkuat di zaman itu. Wawasan
feodalisme yang egosentrik itu juga terpancar pada raja-raja Melayu di
zaman feodal. Misalnya dalam Sejarah Melayu ketika muncul kerajaan
Melayu yang besar, sering diikuti dengan kalimat yang berbunyi:”Maka
adalah kerajaan baginda itu, segala raja-raja dari masyrik lalu ke maghrib
sekaliannya takluk kepada baginda.” Jadi itu sudah menjadi sifat dan
tabiat umum bagi kaisar atau raja feodal yang menganggap dirinya
teragung di sejagat dan semua takluk kepadanya. Dan kaisar feodal Tiongkok
selalu menganggap bahwa dunia yang rukun-damai-harmonis hanya bisa
direalisasi melalui tatanan “Hubungan Negara Metropolitan dengan Negara
Vasal melalui Penyambagan Upeti”.
Sejak Dinasti Qin dan Han berhasil menyatukan seluruh Tiongkok dan
mendirikan negara kesatuan feodal yang terbesar dan terkuat di Asia Timur
pada dua ribu tahun lebih yang lalu, maka mulailah dibina “Hubungan
Negara Metropolitan dengan Negara Vasal melalui Penyembahan Upeti”,
terutama di kasawan Asia Timur Laut dan Asia Tenggara. Hubungan resmi
antara Tiongkok dengan Nusantara juga dimulai pada zaman itu, demikian yang
dicatat dalam Hou Han Shu (Kepustakaan Dinasti Han Belakangan) :
Pada tahun ke 6 Tahun Yong Jian (131 M—Pen) Ye Diao yang di
sebelah luar Re Nan, rajanya Bian mengirim utusan untuk menyembahkan upeti.
Kaisar menganugerahi Raja Diao Bian dengan cap kempa serta kain sutera dewangga.
Negeri yang disebut “Ye Diao” ialah “Javadvipa” , nama rajanya
yang disebut “Diao Bian” ialah “Devavarman”. Jadi sejak tahun
131 Tiongkok sudah mulai menjalin hubungan resmi dengan Indonesia dan
hubungan itu terus berkelanjutan dari dinasti ke dinasti.
Sampai abad ke-7 antara Dinasti Tang dengan Sriwijaya mulai ada
pertukaran kebudayaan yang mendalam, terutama melalui agama Buddha. Dan
perintisnya adalah Yi Jing (I-Tsing), pendeta Buddha Dinasti Tang yang
termahsyur. Pada tahun 671 Yi Jing dalam pelayarannya ke India singgah di
Sriwijaya dan segera dikagumkan oleh kemajuan kebudayaan Buddhanya.,
demikian dikisahkan kesan pertamanya dalam Sarvastivada Karma:
Adapun di kepulauan Laut Selatan banyaklah orang yang menjunjung
agama (Buddha). Demikian pula rajanya sangat mengutamakan kebajikan.
Di bandar Sriwijaya jumlah para biksu mencapai ribuan orang. Semuanya
giat menuntut ilmu dan menjalankan ibadat. Apa yang dipelajarinya tidak
berbeda dengan yang dipelajari di Tiongkok. Tata caranya dan upacara
peralatannya pun semua sama belaka.
Tadinya Yi Jing tidak ada rencana untuk tinggal lama di Sriwijaya,
tetapi setelah melihat begitu maju kebudayaan Buddhanya dan begitu baik
suasana dan sarananya untuk studi, maka ia pun mengambil keputusan untuk
tinggal 6 bulan lebih lama “guna mempelajari pramasastra Sanskrit”.
Ternyata hasilnya sangat memuaskan sehingga ia menganjurkan kepada para
pendeta agung Dinasti Tang yang berniat menuntut ilmu ke Tanah Barat
(India) “seeloknya singgah dahulu di negeri itu (Sriwijaya) barang
satu dua tahun untuk mempeljari tata caranya, kemudian barulah pergi ke
India”. Menurut catatan Yi Jing, di antara pendeta Dinasti Tang yang
melawat ke India dengan mengambil jalan laut tidak kurang dari 19 orang
yang pernah mengunjungi Sriwijaya atau Kalinga dan ada yang senang
sekali tinggal di Sriwijaya sehingga tidak mau kembali lagi. Waktu pulang
dari India, Yi Jing menetap lagi di Sriwijaya sampai belasan tahun
lamanya, karena beliau mengganggap Sriwijaya lebih baik sarananya untuk
dijadikan basis studi agama dan tempat menyalin kitab Buddha Tripitaka yang
dibawanya dari India sejumlah 500,000 gatha lebih. Dalam sejarah
Tiongkok Yi Jing mungkin adalah orang pertama yang menyadari pentingnya
peranan bahasa dalam pertukaran kebudayaan, beliau telah secara khusus
memperkenalkan beberapa nama pendeta Dinasti Tang yang memahami bahasa
Kunlun, iaitu bahasa Melayu kuno yang berlaku di Sriwijaya. Jadi bahasa
Melayu kuno sudah dikenal di Tiongkok sejak abad ke-7.
2.Hubungan Tiongkok-Nusantara Mencapai puncak Kejayaannya Di
Zaman Dinasti Ming
Setelah Dinasti Ming berhasil menggantikan Dinasti Yuan Mongol pada
tahun 1368, maka kaisar pertamanya Ming Tai Zu kembali melanjutkan tradisi
kebudayaan Tiongkok yang mengutamakan rukun-damai-harmonis dengan
memulihkan “Hubungan Negara Metropolitan dengan Negara Vasal melalui
Penyembahan Upeti”. Kaisar Ming Tai Zu mengirim utusan ke Asia Tenggara
untuk memaklumatkan kebijakan luar negerinya, iaitu “hidup berukunan
dengan negeri tetangga, tidak saling menyerang, yang mayoritas tidak
menindas yang minoritas, yang kuat tidak menggencet yang lemah, agar bisa
sama-sama menikmati perdamaian dan kesejahteraan dunia”
Kaisar Ming Cheng Zu yang bertakhta pada tahun 1403 meneruskan dan
mengembangkan kebijakan luar negeri yang digariskan oleh Ming Tai Zu dengan
asas-asas yang lebih jelas:
1) Sebagai “Kaisar Sejagat”, Kaisar Ming berkewajiban melaksanakan
kehendak Langit, menebarkan kebajikan dan kesusilaan ke seluruh dunia.
2) Kaisar Ming berkewajiban untuk memajukan kesejahteraan agar umat
sejagat bisa mendapatkan rejeki, tiada yang kehilangan tempat bernaung.
3) Umat sejagat harus tunduk kepada Kodrat Langit, taat pada titah
Kaisar Ming, masing-masing mengikuti tata kesopanan dan menjaga diri,
tidak boleh melampaui batas.
4) Di bawah pengawasan Kaisar Ming, semua negeri hidup rukun-damai-
harmonis, tidak boleh yang mayoritas menindas yang minoritas dan yang
kuat menggencet yang lemah.
5) Tujuan terakhir yang hendak dicapai ialah semua negeri bisa
sama-sama menikmati ketentraman dan kesejahteraan dunia.
Demi menerapkan kebijakan luar negerinya dan meningkatkan kewibawaannya
Ming Cheng Zu merasa perlu secara besar-besaran mengirim misi muhibah
ke negeri-negeri di sekitar. Pada tahun 1405 Zheng He untuk pertama
kali ditugaskan memimpin suatu armada terbesar di dunia yang terdiri dari
100 sampai 200 buah kapal besar dan kecil serta anak buah (termasuk
perwira dan prajurit) sebanyak 27,000 sampai 28,000 orang, berlayar
mengejuju ke Samudra Barat. Semenjak itu Zheng He berturut-turut telah
memimpin armadanya ke Samudra Barat sampai tujuh kali banyaknya. Nusantara
adalah daerah yang pasti dikunjunginya dan juga yang paling lama
disinggahinya. Boleh dikatakan yang paling sukses dalam menerapkan asas-asas
kebijakan luar negeri Dinasti Ming adalah di kawasan Nusantara.
Kedatanngan Armada Laksamana Zheng He telah membuktikan kepada rakyat di
Nusantara bahwa Tiongkok adalah suatu negara besar yang memiliki tradisi
kebudayaan yang mengutamakan rukun-damai-harmonis, menjunjung tinggi tata
kesopanan, tahu menghormati kedaulatan negeri lain dan tidak pernah
berniat mengekspansi atau mencampuri urusan negeri lain. Maka kedatangan
Laksamana Zheng He di Nusantara selalu mendapat sambutan yang hangat
sekali..Tiap tiba di suatu negeri, di samping membacakan Surat Titah
Kaisar, Laksamana Zheng He pun menyerahkan bingkisan anugerah dari Kaisar
Ming kepada raja di tempat sebagai tanda iktikad baik untuk bersahabatan,
lalu mengadakan perniagaan langsung yang dapat memenuhi kebutuhan
masing-masing. Selain itu Laksamana Zheng He masih membuat banyak kebajikan
yang dapat mendatangkan ketenteraman dan kesejahteraan bagi negeri yang
dikunjunginya. Oleh sebab itu sampai sekarang bekas peninggalan
sejarahnya masih dipelihara baik dan terus diziarahi penduduk, cerita dan
dongeng rakyat mengenai Zheng He juga terus tersebar dari mulut ke mulut
tak pernah putus. Pada tahun 2006 di banyak tempat di kawasan Nusantara
telah digelar secara besar-besaran upacara dan seminar mengenai
Peringatan 600 Tahun Pelayaran Zheng He ke Samudra Barat. Itu menunjukkan
bahwa rakyat di Nusantara masih terus mengenangkan jasa-jasa sejarah
Laksamana Zheng He yang mendatangkan persahabatan, ketentraman dan
kesejahteraan.
Laksamana Zheng Ho telah meletakan landasan sejarah dalam hubungan
silaturahmi Tiongkok-Nusantara. Jasa sejarahnya melingkupi banyak bidang:
Pertama. Meningkatkan keakraban hubungan Tiongkok-Nusantara ke
peringkat optimal di zaman feodal. Banyak contoh yang membuktikan bahwa
kedatangan Laksamanan Zheng He dengan armadanya semata-mata untuk menebarkan
benih persahabatan, tidak mengancam siapa pun, maka mendapat sambutan
yang sangat antusias dan positif dari negeri-negeri di Nusantara. Banyak
raja di Nusantara yang mengambil inisiatif untuk sendiri langsung
berkunjung ke Tiongkok demi menjalin hubungan silatuhrami yang lebih akrab.
Raja-raja yang berkunjun ke Tiongkok pada membawa rombongan dalam
jumlah besar-besaran. Pertama yang datang berkunjung adalah Raja Brunei
dengan rombongannya sebanyak 180 orang. Kemudian disusul oleh Raja Melaka
dengan rombongannya yang memecahkan rekor sejarah, iaitu sebanyak 540
orang lebih. Kemudian disusul lagi oleh Raja Sulu dengan rombongannya
sebanyak 340 orang lebih. Sedangkan raja-raja lainnya yang tidak sempat
datang berkunjung sendiri pada mengirim utusan. Kunjungan langsung yang
secara besar-besaran dari raja-raja dan utusan-utusan raja di Nusantara
itu telah berhasil mempererat hubungan silaturahmi kedua pihak..
Kedua. Memberantas bajak laut di Laut Selatan demi memperlancar
hubungan upeti dan perniagaan antara Tiongkok dengan Nusantara. Pada masa awal
Dinasti Ming, Laut Selatan Tiongkok tidak aman, sering diganggu oleh
bajak laut sehingga hubungan upeti dan perniagaan antara Tiongkok dengan
Nusantara tidak bisa berjalan mulus. Di antaranya yang paling ganas
dan sewenang-wenang adalah kawanan bajak laut yang bersarang di
Palembang, gembongnya bernama Chen Zu Yi. Pada tahun 1407 Armada Laksamana Zheng
He berhasil membasminya dan Laut Selatan Tiongkok menjadi aman dan
tenteram, kegiatan-kegiatan utusan upeti dan perniagaan bilateral dapat
berjalan dengan lancar tanpa ada gangguan lagi.
Ketiga. Membina perdamaian dan keadilan untuk menstabilkan situasi di
kawasan Asia Tenggara. Kaisar Ming menganggap dirinya sebagai “Kaisar
Sejagat” yang berkewajiban membela perdamaian dan keadilan
antarbangsa, maka ketika terjadi persengketaan atau krisis perang, negara yang
bersangkutan lebih suka mencari bantuan kepada Kaisar Ming untuk
mendamaikannya. Dan Kaisar Ming pun selalu membela perdamaian dan keadilan
dengan berdiri di pihak yang lemah dan yang dicederakan, berusaha
menyelesaikan persengketaan dan krisis perang dengan jalan damai tanpa
menggunakan kekerasan.
Keempat. Medorong pertukaran kebudayaan antara Tiongkok dengan
Nusantara. Armada Laksamana Zheng He yang jumlah anggotanya mencapai
27,000-28,000 orang, tiap kali mengunjungi Nusantara tentu bergaulan dengan
penduduk setempat untuk berbeli-belian dan beramah-ramahan. Pergaulan
sehari-hari itu pada hahikatnya merupakan pertukaran kebudayaan, karena
antara kedua pihak selain saling sapa-menyapa, juga mencoba saling
mengenal adat-istiadat dan kebudayaan masing-masing, agar bisa menambah
saling pengertian dan mempererat persahabatan.
Selaras dengan semakin akrabnya hubungan silaturahmi dan semakin
kerapnya pertukaran kebudayaan antara Tiongkok dengan Nusantara, makan
semakin diperlukan pula bahasa tampil ke muka memainkan peranannya sebagai
alat berkemunikasi yang efektif. Oleh karena itu, di zaman Dinasti Ming,
iaitu 600 tahun lebih yang lalu, bahasa Melayu secara resmi sudah
diajarkan di lembaga pendidikan bahasa asing yang disebut “Si Yi Guan”.
Dan bagaimana ditekankan pentingnya bahasa asing itu, dapat dilihat
dari sebuah motonya yang berbunyi: ”Ilmu penyalinan bahasa asing itu
boleh bertahun tidak digunakan, tetapi tidak boleh sehari tidak
disiapkan”. Pada masa hampir bersamaan telah lahir pula kamus Mandarin-Melayu
yang terawal dalam sejarah Tiongkok. Semua itu menandakan bahwa hubungan
Tiongkok-Nusantara telah mencapai puncak kejayaannya yang gemilang di
zaman Dinasti Ming.
Kelima. Ikut menyebarluaskan agama Islam di Nusantara. Sebagaimana
diketahui, Laksamana Zheng He adalah seorang Muslim saleh yang berasal dari
keluarga Muslim turun-temurun, ayahnya seorang haji yang telah
menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Pada masa itu agama Islam sudah mulai
tersebar di Nusantara, maka kedatangan Laksamana Zheng He di Nusantara tentu
memberi dampakan pula pada penyebaran agama Islam. Rupanya bukan
kebetulan kalau masanya agama Islam menyebar luas di Nusantara bertepatan
dengan masanya Laksamana Zheng He 7 kali berlayar ke Samudra Barat. Dan
sumbangan Laksamana Zheng He dalam hal itu sudah banyak dibahas oleh
sarjana Indonesia.
Keenam. Menggalakkan orang Tionghoa berimigrasi ke Nusantara.
Kedatangan Armada Laksamana Zheng He di Nusantara telah mengamankan jalan laut
dari gangguan bajak laut, itu telah memudahkan orang Tionghoa,
terutama yang dari provinsi Guangdong (Kanton) dan Fujian (Hokkian) merantau
ke Nusantara. Disamping itu, anggota Armada Laksamana Zheng He yang
sempat datang di Nusantara juga telah menyuguhkan banyak informasi konkrit
yang langsung menjelaskan tentang keadaan dan kehidupan perantau
Tionghoa di Nusantara sehingga semakin banyak orang yang tertarik untuk
merantau ke “Nanyang” (Laut Selatan), lebih-lebih ketika keadaan dalam
negeri sedang terpuruk.
Hubungan Tiongkok-Nusantara yang rukun-damai-harmonis pada abad ke 15
itu kemudian tidak dapat dilanjutkan lagi karena keterbatasan sejarah.
Di zaman feodal. “Hubungan Negara Metrotolitan dengan Negara Vasal
melalui Penyembahan Upeti” dapat diterapkan dan Laksamana Zheng He bisa
tujuh kali melangsungkan pelayaran ke Samudra Barat karena dijamin dan
didukung oleh kekuatan dan kekayaan negara. Begitu juga perniagaan
melalui upeti yang menguntungkan sepihak itu bisa dipertahankan juga karena
dijamin dan didukung oleh kekuatan dan kekayaan negara. Perniagaan
melalui upeti itu pada hakekatnya bukanlah perniagaan komoditi bebas dan
“sembahan sedikit dibalas anugerah banyak” sama sekali bertentangan
dengan hukum ekonomi pasar. Dan lagi tujuan Armada Laksamana Zheng He
ke Samudra Barat bukanlah untuk membuka pasar dunia, maka tidak
mendorong Tiongkok dari ekonomi natural beralih ke ekonomi pasar, dari
masyarakat feodalis beralih ke masyarakat kapitalis. Apabila kekuatan dan
kekayaan negara Dinasti Ming sudah tidak mampu menanggung beban itu, maka
kaisar feodah Tiongkok pun tidak bisa memainkan peranan sebagai “Kaisar
Sejagat” lagi dan pelayaran Laksamana Zheng He ke Samudra Barat pun
terpaksa dihentikan dan tidak ada penerusnya lagi.
Pada abad ke-16 kaum penjajah Barat mulai membentangkan sayapnya ke
Timur, seluruh Nusantara berangsur menjadi negeri jajahan Barat dan
Tiongkok pun berangsur menjadi negeri setengah jajahan. Berabad-abad lamanya
hubungan resmi antara Tiongkok dengan Nusantara terputus, kedua bangsa
mengalami nasib malang yang sama. Maka dalam sejarah perjuangan
nasional kedua bangsa selalu saling menaruh simpati dan saling
sokong-menyokong hingga mencapai tujuan nasional masing-masing.
Berdirinya Republik Indonesia dan Republik Rakyat Tiongkok seusai
Perang Dunia II membuka halaman baru dalam sejarah hubungan kedua bangsa,
dan dibukanya hubungan diplomatik RI-RRT pada tahun 1950 dan
diselenggarakannya Konferensi Asia-Afrika pada tahun 1955 merupakan tonggak sejarah
bagi kebangkitan bangsa Asia-Afrika. Tetapi waktu itu Perang Dingin
sudah menjalar, dunia terpecah belah dalam blok-blok yang bertentangan.
Untuk mengembangkan hubungan diplomatik yang baru dibuka dan menjamin
suksesnya Konferensi AA, Indonesia dan Tiongkok perlu berkerja sama
dengan baik dalam menyelaraskan sikap pendirian dan kepentingan yang
berbeda-beda. Dan sejarah telah membuktikan bahwa suksesnya Konferensi AA
tidak bisa dipisahkan dari peranan signifikan yang dimainkan oleh Indonesia
dan Tiongkok. Pertama Presiden Indonesia, Soekarno, dalam pidato
pembukaannya menandaskan bahwa “kita, peserta konperensi, berasal dari
kebangsaan yang berlainan, begitu juga latar belakang sosial dan budaya,
agama, sistem politik, bahkan warna kulit pun berbeda-beda, namun kita
dapat bersatu, dipersatukan oleh pengalaman pahit yang sama akibat
kolonialisme, oleh keinginan yang sama dalam usaha mempertahankan dan
memperkokoh perdamaian.” Pidato Prersiden Soekarno itu telah menetapkan
nada dasar Konferensi AA. Kemudian Perdana Menteri Tiongkok, Zhou En Lai,
juga menandaskan bahwa Delegasi Tiongkok datang untuk mencari
persepahaman bukan perselisihan, menuntut persatuan dalam perbedaan dan
berpegang pada lima prinsip koeksistensi secara damai, iaitu menghormati
kedaulatan dan keutuhan wilayah masing-masing, tidak saling mengagresi, tidak
saling mencampuri urusan dalam negeri, persamaan derajat dan saling
menguntungkan, hidup berdampingan secara damai. Pernyataan PM Zhou itu
telah berhasil mengatasi keprasangkaan dan menghindarkan perpecahan yang
akan menghambat kelancaran Konferensi AA. Sikap pandangan dari kedua
pimpinan negara itu boleh dikatakan sesuai dengan tradisi kebudayaan yang
mengutamakan rukun-damai-harnonis dalam keragaman dan itu kemudian
dituangkan ke dalam Dasa Sila Bandung.
Setelah menempuh jalan sejarah yang berliku-liku kini Perang Dingin
sudah berakhir dan dunia pun sudah memasuki era globalisasi.. Dalam
menghadapi peluang dan tantangan globalisasi Tiongkok dan Indonesia serta
negara ASEAN lainnya semakin menyadari pentingnya mempererat hubungan
kedua pihak yang sudah bersejarah. Maka pada tahun 1997 Tiongkok dan ASEAN
pun sepakat untuk memajukan lebih lanjut hubungan bilateral ditinjau
dari prospek strateris bersama, berusaha membina hubungan kemitraan yang
saling percaya-mempercayai. Pada kesempatan itu Presiden Tiongkok,
Jiang Ze Ming menegaskan:”Persahabatan tradisional yang sudah lama,
pengalaman nasib sejarah yang mirip, keinginan sama untuk mempertahankan
perdamaian dan mengembangkan ekonomi merupakan pondamen sejarah yang
penting dan real dalam memperkuat kerja sama yang bersahabat dan saling
percaya-mempercayai”.
Kemudian pada bulan Oktober tahun 2003, dalam rangka menghadiri
Konferensi ke 7 ASEAN + 1 di Bali, Perdana Menteri Tiongkok, Wen Jia Bao,
menandatangani deklarasi bersama yang menyatakan bahwa Tiongkok dan ASEAN
bersetuju menjalin hubungan kemitraan strategis. Pada kesempatan itu PM
Wen Jia Bao mengumumkan tiga asas kebijakan luar negeri Tiongkok, iaitu
“hidup rukun bersama negara tetangga”. “hidup aman bersama
negara tetangga” dan “hidup makmur bersama negara tetangga”. “Hidup
rukun bersama negara tetangga” berarti hidup berdampingan secara
rukun-damai-harmonis dengan negara sekitar untuk memelihara kestabilan dan
ketentraman serantau. “Hidup aman dengan negara tetangga” berarti
saling hormat-menghormati dan percaya-memercayai, menyelesaikan segala
perselisihan dan persengketaan dengan jalan negosiasi secara damai agar
terpelihara keamanan dan perdamaian serantau. “Hidup makmur bersama
negara tetangga” berarti menperluas kerjasama ekonomi dengan mendorong
terbentuknya Region Perdagangan Bebas ASEAN-Tiongkok agar bisa
mencapai kemajuan dan kemakmuran bersama. Asas yang pertama dan yang kedua
boleh dikatakan adalah pelanjutan dan pengembangan dari kebijakan luar
negeri Dinasti Ming yang mengutamakan rukun-damai-harmonis, tetapi
terdapat perbedaan yang hakiki pula, yakni Tiongkok sekarang sudah bukan
negara feodal yang egosentrik; Tiongkok adalah negara berkembang terbesar
yang sedang memperjuangkan masyarakat harmonis dan dunia harmonis.
Tiongkok dengan konsekuen menyatakan tidak akan menjadi “kepala” untuk
selama-lamanya dan menolak hegemonisme. Sedangkan asas yang ketiga,
iaitu “Hidup makmur bersama negara tetangga” justeru ditujukan untuk
mengatasi kelemahan fatal dari kebijakan luar negeri Dinasti Ming yang
mengabaikan faktor kemajuan ekonomi. Dengan dilaksanakannya asas yang
ketiga, kebijakan luar negeri yang mengutamakan rukun-damai-harmonis itu
baru bisa diletakkan atas dasar ekonomi pasar yang maju dan teori
perkembangan yang ilmiah.
Indonesia adalah negara ASEAN yang terbesar, jumlah populasinya
melebihi 2/3 dari jumlah populasi ASEAN. Indonesia dan Tiongkok merupakan
dua negera terbesar di Asia Timur yang hubungannya sudah berlansung
ribuan tahun lamanya. Dan dalam Konferensi AA tahun 1955 kedua negara telah
berkerja sama dengan baik dan memainkan peranan yang penting sekali
dalam menyukseskan konferensi tersebut. Demi membangun negara
masing-masing dan memajukan hubungan strategis Tiongkok-ASEAN, adalah penting
sekali untuk meningkatkan lebih lanjut hubungan kedua negara. Maka pada
tanggal 5 April tahun 2005 dalam rangka memperingati 55 tahun dibukanya
hubungan diplomatic RI-RRT dan 50 tahun diadakannya Konferensi AA,
Presiden RRT, Hu Jingtao, dan Presiden RI ,Susilo Bambang Yudhoyono, telah
mengeluarkan deklarasi bersama tentang membina hubungan kemitraan
strategis Tiongkok-Indonesia dengan mengemukakan 28 pasal pelaksanaannya di
tiga bidang: 1, kerja sama di bidang politik dan keamanan; 2, kerja sama
di bidang ekonomi dan perkembangan; 3, kerja sama di bidang soaial dan
budaya. Kalau ditinjau dari proses sejarah, hubungan kemitraan
strategis Tiongkok-Indonesia itu memang sudah sewajarnya dan pada saatnya
karena landasan sejarahnya sudah diletakkan di zaman Laksamana Zheng He dan
di waktu Konferensi AA, sekarang seluruh syaratnya sudah mateng.
Hubungan kemitraan strategis Tiongkok-Indonesia itu tentu akan memainkan
peranan positif dan konstruktif bukan hanya bagi Tiongkok dan Indonesia,
juga bagi ASEAN dan Asia Timur sebagaimana dikatakan oleh Duta Besar RI,
Sudrajat, dalam sebuah wawancara: “Populasi Indonesia dan Tiongkok
kalau dijumlah telah mencapai 1,500 juta orang lebih. Kita akan
bersama-sama berusaha membangun Asia supaya menjadi lebih aman dan makmur”.
Belum lama berseleng dalam rangka kunjungan kenegaraan Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono ke RRT telah ditandatangani pula perjanjian ekonomi
di berbagai bidang yang mencapai 7,5 miliar US dollar jumlahnya.
Seterusnya Presiden Hu Jingtao dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah
berkomitmen pula untuk meningkatkan nilai perdagangan menjadi 30 miliar US
dolllar pada tahun 2010. Sudah tentu semua itu akan menambah kuatnya
kepercayaan politik dan memperluas kerja sama kedua negara di segala
bidang. Kalau ditambah lagi dengan jumlah populasi negara ASEAN lainnya,
maka seluruhnya akan mencapai 2000 juta orang lebih. Boleh dibayangkan
kalau semua sudah bertekad bulat untuk menjadi mitra strategis dan
memperjuangkan terbentuknya Region Perdagangan Bebas ASEAN-Tiongkok, maka
pada tahun 2010 di dunia ini akan lahir satu pasar dunia yang terbesar
dengan penduduknya sebanyak 2000 juta orang, GDPnya mencapai 200 miliar
US dollar dan volume perdagangannya mencapai 120 miliar US dollar. Dan
lagi hubungan kemitraan strategis itu dilandasi oleh tradisi Kebudayaan
Timur yang mengutamakan rukun-damai-harmonis dalam keragaman, maka apa
yang diidam-idamkan di zaman Dinasti Ming, iaitu “semua bangsa
sama-sama menikmati perdamaian dan kesejahteraan dunia” ada kemungkinan
terealisasi di zaman kini.