Pada Pemilu legislatif Taiwan kemarin, partai pendukung unifikasi, Kuomintang (KMT) berhasil meraih kursi mayoritas dan mengalahkan pesaing utamanya dan penguasa selama dua periode terakhir, Partai Progresif Demokrat (DPP). KMT berhasil meraih 81 dari 113 kursi yang diperebutkan, sementara DPP hanya meraih 27. Dominasi KMT ini berlanjut pada pemilihan Presiden Taiwan. Pertanyaan besar yang kemudian muncul adalah: Apakah akan terjadi unifikasi damai antara PKC – KMT?
Perseteruan antara kaum nasionalis dan komunis di daratan China telah berlangsung hampir seabad. Berawal dari kekalahan China dari bangsa “barbar” barat pada Perang Candu dan kemudian Jepang di Korea menyebabkan ego China sebagai Zhongguo yang menjadi pusat dunia runtuh. Konsekuensinya, China harus mengirim pemuda-pemuda terbaiknya ke luar negeri untuk belajar dari Barat dalam segala hal, termasuk ideologi.
Daripada teknologi, yang harusnya diutamakan, malah ideologilah yang banyak masuk ke China, termasuk Marxisme yang kemudian menjadi embrio PKC yang didirikan Li Dazhao dan Chen Duxiu dan nasionalisme yang kemudian dimotori oleh Sun Yat Sen dan dilanjutkan Chiang Kai-Sek. Kedua ideologi kemudian saling berebut pengaruh hingga akhirnya KMT meraih kekuasaan melalui revolusi Xinhai 1911.
Selain perseteruan, sejarah China juga pernah mencatat persatuan kedua pihak pada Front Persatuan I dan II dalam rangka menghadapi para warlord dan Jepang pada medio 1920an dan Perang Dunia II. Sejarah panjang kedua pihak juga diwarnai berbagai peristiwa bersejarah seperti Longmarch, perang saudara dan yang paling menentukan nasib kedua pihak yaitu terpisahnya China menjadi RRC dan Taiwan pada 1949. Hingga kini, kedua belah pihak masih saling bernafsu untuk menyatukan dua China ini, sesuai dengan ideologi dan keinginannya sendiri-sendiri.
Inilah yang ditanamkan ke dalam pikiran pemuda dan anak-anak masing-masing negara. Apabila RRC lebih moderat, maka Taiwan melakukan kampanye melalui pendidikan, misalnya dengan sebuah pernyataan pada buku teks pelajaran kuliah Practical Audiovisual Chinese bagian shang (awal). Pada bagian tersebut, seorang asing menanyakan apakah mungkin kedua China bersatu, dan jawaban dari kawannya yang orang Taiwan adalah: “mungkin, apabila China telah menjalankan demokrasi”. Inilah pandangan standar orang Taiwan terhadap unifikasi Cina, yang menyebabkan DPP berhasil meraih kemenangan sejak 2000 hingga kekalahannya kemarin.
Sementara RRC sendiri juga sangat mengharapkan persatuan dengan Taiwan. Bukan hanya atas dasar historis dan politik untuk mendirikan satu China, tapi juga untuk membuat satu lagi satelit ekonomi untuk mendukung kebangkitan ekonomi RRC yang semakin menggila. Untuk itu berbagai opsi ditawarkan, di antaranya adalah penerapan status seperti Hongkong yang hingga kini masih menjalankan kehidupan ekonominya secara kapitalis dan juga politik yang cenderung lebih bebas dari pada daratan. Opsi “satu China dua sistem” inilah yang menjadi salah satu senjata diplomasi utama dari RRC untuk mempertahankan Hongkong, dan juga kelihatannya akan dipakai terhadap Taiwan. Dengan program ini, maka Taiwan akan memiliki kebebasan yang cukup besar terhadap kehidupan lokalnya.
Selain itu, senjata lain dari RRC adalah reduksi dan blokade politik terhadap Taiwan dengan cara menanamkan pengaruh dan bantuan ekonomi terhadap negara-negara yang mengakui kedaulatan Taiwan. Diplomasi ini telah banyak dijalankan terhadap negara Amerika Latin dan Afrika yang mulai menarik dan mereduksi hubungan mereka dengan Taiwan. Halangan utama dari usaha RRC ini adalah Amerika Serikat yang kelihatannya tidak akan melepas Taiwan, dalam usahanya menahan laju RRC sebagai pesaing nomor wahidnya dalam hal pengaruh global saat ini.
Dari sisi Taiwan sendiri, kemenangan KMT bukan berarti akan lancarnya unifikasi antara kedua China. Kalangan rakyat Taiwan sendiri kurang menginginkan terjadinya unifikasi antara kedua negara. Mereka sudah merasa nyaman dan tidak melihat keuntungan dari unifikasi dengan China. Ini pula yang menyebabkan DPP bisa memenangkan dua periode kepemimpinan di Taiwan, dan ini juga yang diserukan oleh Chen Shui-Bian pada saat kekalahan DPP kemarin di parlemen.
Untuk itu, prospek unifikasi dua China kelihatannya masih jauh panggang dari api. Mungkin negosiasi untuk unifikasi masih akan terus dilakukan, akan tetapi perlu dilihat sejauh mana itu akan berpengaruh. Ada banyak faktor yang meyebabkan sulitnya unifikasi: minimnya kepentingan (terutama dari Taiwan), minimnya keinginan rakyat, dan hambatan luar negeri (AS). Hambatan ideologis dan politis sendiri tidak lagi menjadi sebuah isu sentral bagi kedua belah pihak, karena China telah menerapkan sistem ekonomi pasar dan bahkan kini mulai sedikit “menginjak ranah demokrasi” dengan persaingan Xi Jinping dan Li Keqiang untuk menjadi pengganti Hu Jintao.
Bila dikaji, cukup banyak faktor yang bisa mendorong penyatuan kembali Cina. Harapan unifikasi memang tetap ada, terutama ini muncul dari RRC yang sejak dulu ingin melegitimasi diri sebagai satu-satunya China. Dengan naiknya KMT sekarang, harapan itu boleh bertambah besar, walaupun kelihatannya masih akan sulit dilakukan karena berbagai sebab. Setidaknya, ancaman militer China di region Asia Timur kini sudah berkurang. Tidak ada alasan bagi China untuk menyerang Taiwan bila proses diplomasi unifikasi berjalan.
Selanjutnya tinggal bagaimana proses diplomasi kedua negara terus berjalan. Satu hal yang pasti, unifikasi akan sangat mempengaruhi konstelasi Asia Pasifik dan dunia global. Dua macan ekonomi Asia yang bersatu akan sangat berbahaya, bagai menumbuhkan sayap mereka. Konstelasi politik juga akan sangat terpengaruh, sehubungan dengan semakin giatnya RRC menanamkan soft power-nya di seluruh dunia