Mungkin kalo kita ditanya, kenapa kita setiap hari datang ke sekolah dan kampus masing-masing, kita bakal ngejawab dengan ribuan kemungkinan jawaban. Ada yang karena pengen pinter, ada yang karena disuruh ama BoNyok masing-masing, ada yang karena alasan pacaran, atau mungkin ada juga yang datang karena hari itu ada kuliah/pelajaran yang diajar guru-guru yang ganteng atau cantik. Beberapa malahan sampe pacaran dan ada juga yang sampe ke jenjang pernikahan loh! Setidaknya, itulah yang disampaikan kontributor gue semalam. Nama mereka (samaran juga dong!!!) bang Abu dan mbak Meli
Malam itu mendung. Jam udah menuju ke arah jam 11 malam dan gue juga udah lumayan bete karena cape, penat, lelah dan segala macam yang lainnya. Pas lagi hampir ketiduran, tahu-tahu line-in kemasukan telepon dari nomor 0856xxxxxxxx dan line 2 kemasukan nomor 0813xxxxxxxx.
Mereka adalah Mbak Meli dan juga bang Abu yang gue ceritain di prolog tadi. Karena kebetulan lagu Evanescene lagi muter, jadi gue terima dulu telv mereka. Gak disangka, entah ada kebetulan apa, kisah mereka berdua tentang cinlok (cinta karena sering menclok alias cinta lokasi) dan topiknya juga sama yaitu kisah dengan pengajar mereka di tempat masing-masing.
Bang Abu masih SMA kelas 2 di sebuah SMU Negeri yang lumayan unggulan di selatan sedangkan Meli seorang mahasiswi Universitas di Depok (ayo tebak, universitas yang mana???) tingkat akhir. Mereka punya kecenderungan yang sama dalam cinta, yaitu menyukai “kematangan” (sawo kali!!!) yang seringkali dimiliki oleh orang-orang yang lebih tua dari mereka, alias guru mereka. Bang Abu had a crush on guru exkul bahasa Jepangnya, sensei Selvi yang menurut cerita dia bohai nan cantik bak seorang dewi Kanon dari kahyangan (bang Abu perlu belajar lagi nih, karena di cerita mitologi Buddha dewi Kwan Im alias dewi Kanon itu aslinya cowok juga). Kalo mbak Meli udah lebih settle lagi dengan pilihan dia, seorang dosen setengah baya yang masih oke yang namanya Mas (ceilee…) Edu.
Gak disangka, ternyata kisah cinta mereka berjalan dengan berbagai halangan, rintangan, ombak yang menghadang, karang terjal menjulang tinggi dan lautan api yang harus diseberangi (hiperbol abis…). Mulai dari segala masalah umur yang terpaut lumayan jauh, restu ortu yang berat minta ampun, sampe akhirnya mas Edu yang disayang harus bertugas ke luar negeri sekaligus juga mengambil ijazah S-2 (bukan SD, SMP loh…) di sana. Apa mau dikata, memang masalah yang datang harus dihadapi dengan segala cara.
Meli akhirnya memutuskan untuk pergi menyusul Mas Edu-nya ke luar negeri dan di sana… seperti kisah di dongeng-dongeng, they live happily ever after…
Eiitttt…. Tar dulu, bang Abu gimana? Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih, cerita mereka berdua ternyata tiada berkelanjutan… karena sensei Selvi yang disayang telah menikah. Sabar aja bung, masih banyak gadis cantik yang berkeliaran di kolong langit ini kok. Love will find you if you try!!!
Sobat pendengar, begitu gue selesai ngedengerin cerita mereka berdua, gue jadi inget cerita gue sendiri yang mirip begitu juga. Gue sendiri pernah had a crush on my teacher. Bahkan kejadiannya sekarang juga masih kok. Gue punya seorang dosen yang cantik banget, terus dia juga baik banget, pengertian, kreatif dan segala hal baik yang mungkin disebutin seorang remaja yang jatuh cinta pada pujaan hatinya. Sayang banget, bu Ani udah punya suami, trus gue juga punya pujaan hati yang lain, yang umurnya sepantaran ma gue. Sayang sampai file ini selesai gue tulis, gue belum punya keberanian buat ngomong perasaan gue ini ke dia. Doain n semangatin gue supaya punya keberanian buat ngomong ke dia ok!!!
(NB: Just for you guys, gue pemalu dan minderan banget sama makhluk yang namanya cewe!!!)