Mrdreofzhongwenxi’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Arsip untuk ‘fiksi’ Kategori

Riko chapter2: That’s what I go to school for…

Ditulis oleh mr dre di/pada November 17, 2007

Mungkin kalo kita ditanya, kenapa kita setiap hari datang ke sekolah dan kampus masing-masing, kita bakal ngejawab dengan ribuan kemungkinan jawaban. Ada yang karena pengen pinter, ada yang karena disuruh ama BoNyok masing-masing, ada yang karena alasan pacaran, atau mungkin ada juga yang datang karena hari itu ada kuliah/pelajaran yang diajar guru-guru yang ganteng atau cantik. Beberapa malahan sampe pacaran dan ada juga yang sampe ke jenjang pernikahan loh! Setidaknya, itulah yang disampaikan kontributor gue semalam. Nama mereka (samaran juga dong!!!) bang Abu dan mbak Meli

 

Malam itu mendung. Jam udah menuju ke arah jam 11 malam dan gue juga udah lumayan bete karena cape, penat, lelah dan segala macam yang lainnya. Pas lagi hampir ketiduran, tahu-tahu line-in kemasukan telepon dari nomor 0856xxxxxxxx dan line 2 kemasukan nomor 0813xxxxxxxx.

Mereka adalah Mbak Meli dan juga bang Abu yang gue ceritain di prolog tadi. Karena kebetulan lagu Evanescene lagi muter, jadi gue terima dulu telv mereka. Gak disangka, entah ada kebetulan apa, kisah mereka berdua tentang cinlok (cinta karena sering menclok alias cinta lokasi) dan topiknya juga sama yaitu kisah dengan pengajar mereka di tempat masing-masing.

Bang Abu masih SMA kelas 2 di sebuah SMU Negeri yang lumayan unggulan di selatan sedangkan Meli seorang mahasiswi Universitas di Depok (ayo tebak, universitas yang mana???) tingkat akhir. Mereka punya kecenderungan yang sama dalam cinta, yaitu menyukai “kematangan” (sawo kali!!!) yang seringkali dimiliki oleh orang-orang yang lebih tua dari mereka, alias guru mereka. Bang Abu had a crush on guru exkul bahasa Jepangnya, sensei Selvi yang menurut cerita dia bohai nan cantik bak seorang dewi Kanon dari kahyangan (bang Abu perlu belajar lagi nih, karena di cerita mitologi Buddha dewi Kwan Im alias dewi Kanon itu aslinya cowok juga). Kalo mbak Meli udah lebih settle lagi dengan pilihan dia, seorang dosen setengah baya yang masih oke yang namanya Mas (ceilee…) Edu.

Gak disangka, ternyata kisah cinta mereka berjalan dengan berbagai halangan, rintangan, ombak yang menghadang, karang terjal menjulang tinggi dan lautan api yang harus diseberangi (hiperbol abis…). Mulai dari segala masalah umur yang terpaut lumayan jauh, restu ortu yang berat minta ampun, sampe akhirnya mas Edu yang disayang harus bertugas ke luar negeri sekaligus juga mengambil ijazah S-2 (bukan SD, SMP loh…) di sana. Apa mau dikata, memang masalah yang datang harus dihadapi dengan segala cara.

Meli akhirnya memutuskan untuk pergi menyusul Mas Edu-nya ke luar negeri dan di sana… seperti kisah di dongeng-dongeng, they live happily ever after…

Eiitttt…. Tar dulu, bang Abu gimana? Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih, cerita mereka berdua ternyata tiada berkelanjutan… karena sensei Selvi yang disayang telah menikah. Sabar aja bung, masih banyak gadis cantik yang berkeliaran di kolong langit ini kok. Love will find you if you try!!!

Sobat pendengar, begitu gue selesai ngedengerin cerita mereka berdua, gue jadi inget cerita gue sendiri yang mirip begitu juga. Gue sendiri pernah had a crush on my teacher. Bahkan kejadiannya sekarang juga masih kok. Gue punya seorang dosen yang cantik banget, terus dia juga baik banget, pengertian, kreatif dan segala hal baik yang mungkin disebutin seorang remaja yang jatuh cinta pada pujaan hatinya. Sayang banget, bu Ani udah punya suami, trus gue juga punya pujaan hati yang lain, yang umurnya sepantaran ma gue. Sayang sampai file ini selesai gue tulis, gue belum punya keberanian buat ngomong perasaan gue ini ke dia. Doain n semangatin gue supaya punya keberanian buat ngomong ke dia ok!!!

(NB: Just for you guys, gue pemalu dan minderan banget sama makhluk yang namanya cewe!!!)

Ditulis dalam fiksi | Leave a Comment »

The Story of Riko 1st Chapter

Ditulis oleh mr dre di/pada Oktober 26, 2007

Kenalin dulu… Nama gue Riko. Gue sekarang kuliah di salah satu Universitas terkemuka di kota Jakarta yang gila ini. Selain jadi mahasiswa, gue juga jadi seorang penyiar radio di salah satu radio swasta yang juga oke punya, tapi jangan pernah lo nyamain gue sama si Riko ceper, cause i’m not him. Acara gue tayang pas jam 10.30 malam hari Kamis, namanya Friday Night, Bring it out!!! Acara ini isinya buangan “sampah” dari semua rakyat Indonesia, dari yang udah bulukan ampe yang “fresh from the oven”. Jadi buat lo semua yang punya cerita kisah hidup yang perlu di”buang” silakan telv ke nomer 08xxxxxxxxx.

File 1: Teen’s monkey love

Jadi penyiar radio yang programnya curhat emang gampang-gampang susah… Kita kudu siap-siap denger cerita dari yang konyol, sedih, tegang ampe yang bikin “adek kecil” pasang kuping juga. Di minggu pertama on air, cerita yang masuk semuanya cinta monyet konyol (sebenarnya emang itu sih temanya…). Cerita kurang seru tapi kita yang cape cari pemecahannya… Oh My God!!! Untungnya ada satu yang lumayan bikin gue bisa ketawa lepas, apalagi sang kontributor gak minta saran dan cuma bagi-bagi cerita aja…

Ini hari ketiga kita siaran. Acara udah gue buka kira-kira 10 menit yang lalu dan sekarang gue baru muter satu nomor lawas dari Frente, Bizarre Love Triangle, yang ampe sekarang juga masih oke banget ketika nomor line-in berdering. Doi ternyata seekor anak SMA yang lagi cinta ama monyet, eh… maksud gue lagi cinta monyet. Nama doi Jacky (so pasti samaran…). Gue mau ngasih cerita ini karena ternyata cerita beliau ini yang paling berkesan dari sekian cerita di minggu pertama acara ini. Jadi, begini ceritanya…
Cerita ini terjadi pas lagi masa kampanye Pemilu 2004 kemarin. Jadi ceritanya bung Jacky ini jurkam muda salah satu parpol yang inisial pertamanya P (ya iyalah… mana ada yang inisial depannya Z gitu…). Jadilah beliau berkeliling Jakarta untuk menjajakan parpolnya kepada siapapun yang berminat mendengarkan, hingga sampailah beliau pada suatu malam di kawasan Mxxxxxm yang terkenal dengan kehidupan malamnya yang gemerlapan.
Di sana beliau berkenalan dengan seorang gadis muda yang (katanya) mirip Dian Sastrowardoyo (jadi biar gampang dia kita panggil Dian aja ya… Dian yang asli, sori banget atas kesengajaan ini, sori ya… No hard feeling loh!). Karena kebetulan beliau juga seorang yang doyan “jajan” untuk mentraktir “ade”nya maka ia pun mengeluarkan jurus rayuannya yang paling ampuh yaitu… dompetnya yang tebal! Setelah beberapa saat bernegosiasi, sehandal negosiasi Hamid Awaluddin di Helsinki dengan GAM, akhirnya harga sepakat dan mereka asik ber”ajep-ajep” ria. Menurut pengakuan bung Jacky, ini dia kategorikan sebagai cinta monyet, gelendotan di pohon sebentar, petik buahnya, makan, langsung buang kulitnya ke tanah.
Yang menarik, begitu acara selesai dan Dian diantar balik ke pangkalannya, bung Jacky kita memberikan setumpukan stiker partainya kepada Dian untuk dibagikan kepada rekan-rekannya dengan pesan untuk mencoblos partai itu pada Pemilu. Inilah contoh seorang jurkam yang sangat berdedikasi. Selalu ingat kepada tugas kapanpun dan di manapun.
Untungnya dia gak minta saran apa-apa sama gue. Coba kalo dia minta saran… bisa gila gue dibikin bingung sama dia. Well, itu tadi bung Jacky yang udah memberikan kontribusi ceritanya yang gue rangkum barusan… We’ll see you at the next file!

Ditulis dalam fiksi | Leave a Comment »