Mrdreofzhongwenxi’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Arsip untuk Februari, 2008

Komunikasi dan Koordinasi massa pada masa China-Mao (ringkasan materi presentasi pada mata kuliah Sistem Sosial Politik China)

Ditulis oleh mr dre di/pada Februari 18, 2008

Bagaimanakah komunikasi dan koordinasi massa pada masa China-Mao Zedong? Benarkah sebagai sebuah Negara sosialis mereka menggunakan tangan besi dari pemerintah untuk mengarahkan masyarakat untuk melakuakn sesuai dengan keinginan penguasa? Ataukah ada cara lain yang dilakukan oleh rezim pemerintah China-Mao untuk mengarahkan keinginan masyarakat?

Pertanyaan itu bisa dijawab dengan memperhatikan tulisan dari Charles Lindblom mengenai koordinasi massa pada Politics and Market. Dalam buku ini, beliau menjelaskan tentang cara koordinasi massa yang lazim digunakan pada dunia massa Perang Dingin.

Dalam bukunya, Lindblom menyatakan bahwa koordinasi massa dilakukan dengan 3 macam mekanisme: Pasar, kekuasaan dan perseptoral. Pada mekanisme pasar, Negara lepas tangan terhadap kegiatan masyarakat dan politik. Ini berbeda 180º dengan system authority yang mengandalkan pada kuasa Negara untuk mengatur masyarakatnya. Sementara itu, beliau menulis bahwa ada satu lagi cara komando masyarakat yaitu dengan perseptoral (persuasi).

Sistem ini digunakan oleh pemerintah dengan berbagai cara. Mulai dari propaganda melalui surat kabar (yang mana pada waktu itu semua dikendalikan di bawah pemerintah dengan “rajanya” Renmin Ribao) hingga pembentukan kelompok diskusi dengan “konsul2” yang ditunuk dan dibiayai pemerintah pada apa yang disebut sebagai “ritual Maois”.

Segala macam kegiatan ini dilakukan untuk mendoktrin masyarakat China dengan sosialisme dan sikap-sikap yang sesuai dengan ajaran Mao Zedong. Di sini, propaganda dilakukan dengan diperkuat oleh system authority yang sangat kuat dan memaksa masyarakat untuk mengikuti segala kegiatan itu (biasanya setelah bertani).

Setelah sosialisme berhasil ditanamkan dengan cukup kuat, baru dilakukan penerapan system perseptoral pada masyarakat Cina. Kader militant yang diperlukan untuk memberikan “persuasi” dan propaganda telah tersedia dengan baik dan siap untuk digunakan oleh partai. Mulai saat inilah dilakukan penerapan perseptoral. Kelompok-kelompok diskusi yang tadinya digunakan untuk memberikan doktrinasi kini digeser fungsinya menjadi lembaga mobilisasi massa dengan cara memberikan insentif material (sebelum komune) dan insentif moral.

System ini juga yang membuat system komune berhasil diterapkan dengan mulus. Bermula dari penerapan komune di daerah Hsing-yang yang cukup berhasil. Keberhasilan komune percontohan ini dipublikasikan besar-besaran dan dipuji secara berlebihan oleh Mao Zedong. Pada akhirnya, dengan propaganda dan publikasi positif seperti itu, rakyat daerah lain berlomba-lomba meminta daerahnya dijadikan komune, dan PKC berhasil membuat komune di seluruh Cina menjadi kenyataan.

Pembahasan untuk masalah insentif material dan insentif moral akan dilanjutkan minggu depan.

Ditulis dalam cina | 2 Komentar »

Batik Lasem, Karya Cina-Peranakan, diambil dari Chinese-Studies.org dari sumber Kompas

Ditulis oleh mr dre di/pada Februari 6, 2008

BICARA batik, pasti angan kita langsung melayang ke kota Jogja atau Solo, bahkan melayang hingga Pekalongan. Tak salah memang, karena kota-kota ini memang terkenal sebagai sentra industri batik di tanah air. Batik Jogja, sudah biasa. Batik Lasem? Sebagian mungkin sudah banyak yang mendengar mengenai kualitas batik hasil olahan perajin di kawasan Lasem, Solo, Jawa Tengah ini.

Akan tetapi, mungkin tak banyak yang tahu, kalau Batik Lasem merupakan karya warisan dari budaya kaum China Peranakan. Adalah Santoso Hartono, satu dari 23 perajin batik Lasem yang masih tersisa saat ini.

Santoso adalah generasi ketiga dari trah keluarganya yang mempertahankan bisnis kerajinan batik di kawasan Lasem. Namun, ia membangun sayap usahanya sendiri. “Usaha yang dibangun orang tua jalan, usaha saya juga jalan,” ujar dia.

Sebagai generasi turun temurun, ternyata pria keturunan Tionghoa ini pun tak banyak tahu riwayat batik yang menjadi sumber penghasilannya itu.

“Kalau Lasem itu asalnya dari masyarakat China Peranakan, saya tahu. Tapi, saya nggak tahu banyak sejarahnya. Yang saya tahu, dulu di Lasem tepatnya di desa Kemendung ada wanita keturunan China namanya Putri Cempa. Katanya, batik Lasem itu dulu dibuat oleh keturunan Putri Cempa ini,” ungkap Santoso, saat ditemui di arena pameran budaya China Peranakan, di Mal Ciputra, Rabu (30/1).

Awal ketertarikan Santoso menekuni bisnis kerajinan Batik Lasem, bermula ketika ia pulang dari Jakarta sekitar tahun 2004. “Waktu itu saya penasaran aja, lihat banyak buruh batik di kampung saya. Saya bertanya-tanya buruh batik itu dapat bayaran berapa sih? Ternyata cuma Rp6 ribu sampai Rp7 ribu. Akhirnya saya tanyain, mau mbatik dengan saya nggak? Ya saya menawarkan bayaran yang lebih baik. Akhirnya banyak yang berminat dan sampai sekarang saya sudah punya 200 pembatik,” lanjut dia.

Ciri khas batik Lasem adalah coraknya benar-benar ditulis atau diukir sendiri oleh para perajinnya, bukan dicetak (diprinting). Warna khasnya, salah satunya warna yang menjadi khas Masyarakat Tionghoa, merah. Biru dan hijau juga warna khas batik lasem.

“Kalau dulu warna gelap juga khas lasem, tapi kalau kita bertahan seperti itu nggak laku, jadi kita terus melakukan inovasi.”

Salah satu inovasi yang dilakukan Santoso dan perajin batik Lasem lainnya adalah membuat motif yang lebih ‘gaul’. Kata dia, motif yang lebih disukai oleh anak muda. Selain merangkul pasar yang lebih luas, diharapkan juga bisa mengajak generasi muda untuk mencintai produk khas dalam negeri.

Pewarnaan batik Lasem hanya dilakukan di tiga tempat, yaitu di Lasem, Kota Solo dan Pekalongan. Uniknya, proses pewarnaan akan menjadi bagus jika menggunakan air kacer. Menurut Santoso, air kacer adalah air yang bersumber dari mata air langsung. “Kita sudah coba pakai air pam, air sumur. Tapi nggak tahun kenapa, kalau pakai air kacer itu hasilnya lebih bagus.”

Untuk mengenalkan batik Lasem, berbagai pameran telah dilakukan. Sayangnya, ujar Santoso, pameran di Luar Negeri belum bisa dilakukan. Padahal beberapa pelanggannya berasal dari sejumlah negara, seperti Jepang bahkan hingga turis negara-negara Eropa.

Jenis-jenis batik Lasem juga beragam. Santoso menyebutkan beberapa diantaranya, yaitu Sekar Jagad, Tiga Negeri, Tambal, Sisik, Pukel dan Klerek.

Bagaimana dengan harga? “Bervariasi mbak, mulai dari 100 ribu sampai 1,5 juta. Tergantung jenisnya juga. Asal bisa bedakan batik Lasem dengan ‘laseman’, yang palsu. Kalau laseman cuma 25 ribu. Banyak yang niru motifnya, tapi printing-an, bukan tulis. Itu yang membuat saya khawatir,” pungkas Santoso. (ING)

Ditulis dalam Studi Etnis | Leave a Comment »

Konfusianisme dan Gaib…

Ditulis oleh mr dre di/pada Februari 6, 2008

Loh… Kok judulnya gitu???

Sebetulnya posting ini ditulis untuk menanggapi banyaknya permintaan yang menanyakan tentang pendapat Konfusius mengenai hal gaib (mungkin karena banyak yang menyangka kalau Konfusianisme itu agama). Padahal sebenarnya menurut saya, Konfusianisme itu ya seperti namanya, -isme, yang berarti ideologi, jalan dan cara hidup.

Sebenarnya, Kong Zi sendiri tidak pernah membicarakan tentang masalah hidup setelah mati, Tuhan, ataupun hal-hal gaib lainnya. Ini berbeda dengan Taoisme yang banyak membahas tentang masalah tersebut, bahkan menyatakan bahwa manusia juga bisa mencapai tingkat dewa (seperti kisah di Eight Immortalsnya James Legge), atau Buddha yang membahas tentang lingkaran reinkarnasi sebelum mencapai tingkatan Boddhisatva dan menjadi Buddha.

Mungkin satu-satunya jawaban Konfusius tentang kehidupan setelah mati adalah ketika ditanyakan oleh muridnya, yang dijawabnya: Untuk apa memikirkan kehidupan setelah mati, padahal masih banyak yang belum terjawab dalam hidup.

Apakah ini artinya konfusius tidak perduli tentang kehidupan setelah mati? Mungkin tidak juga. buktinya dia membuat konsep tentang xiao terhadap leluhur.

Sementara itu, untuk masalah dengan Tian (langit) Konfusius kelihatannya juga mendasarkan takdir pada konsep Tao dan sistem kausalitas. Sebab akibat adalah hukum yang berlaku dan karma adalah aturan yang dipegang teguh oleh semua pihak: Jangan melakukan apa yang kamu tidak ingin orang lain lakukan pada dirimu (Analects of Confucius).

Saya setuju dengan comment Johannes pada posting sebelumnya (dinasti Zhou) bahwa Konfusius adalah guru moral, tapi untuk masalah Tian, jujur ilmu saya masih sangat kurang. Mungkin akan dibahas pada posting-posting selanjutnya.

Cu@dnextpost

Ditulis dalam cina | Leave a Comment »

Wayang Kulit China-Jawa (Diambil dari Kompas, dari www.chinese-studies.org)

Ditulis oleh mr dre di/pada Februari 2, 2008

Wayang kulit China buatan Jogja hanya tersisa dua set di dunia yakni di DI Jogjakarta dan Jerman. Pengajar Sastra China-Jawa Universitas Indonesia, Dwi Woro Retno Mastuti, yang ditemui Selasa (8/1) menjelaskan, wayang kulit China buatan Jogja tersebut memiliki unsur budaya Tionghoa dan Jawa yang kental sebagai produk akulturasi budaya yang berbeda dengan wayang kulit China di Provinsi Fujian, Republik Rakyat China.

“Wayang tersebut memiliki ornamen unik khas busana dan ornamen Jawa. Lakon yang dimainkan adalah cerita klasik seperti Sie Djin Koei, Sun Go Kong dan Kisah Tiga Negara atau Sam Kok,” kata Woro.

Namun, wayang tersebut tidak dipertunjukan lagi karena dilarang Orde Baru sejak tahun 1967. Pada tahun tersebut, Dalang Wayang Kulit China Gan Dwan Sing juga meninggal sehingga pertunjukan unik itu berakhir.

Menurut Woro, naskah Wayang Kulit China juga khas karena ditulis dalam aksara Jawa dalam naskah setebal 4000 halaman. Naskah tersebut kini disimpan dengan baik oleh pakar wayang dari Jerman bernama Wolter Angst.

Woro sudah menyalin sebagian naskah tersebut karena berisi catatan sejarah dan data yang menarik. Penyalinan naskah tertunda karena keterbatasan biaya yang mencapai ribuan Euro.
Yang jelas, keberadaan Wayang Kulit China lanjut Woro merupakan tonggak sejarah dan harus dilestarikan untuk mendorong proses integrasi dan akulturasi budaya Tionghoa dan Jawa sebagai bagian budaya nasional Indonesia.

Di masa lalu, Wayang Kulit China populer dimainkan di Jogjakarta, Solo, Semarang, Surabaya dan sekitarnya di kelenteng yang dinikmati publik. Masa jaya wayang kulit China diperkirakan pada perempat pertama abad 20 hingga munculnya kekuasaan Orde Baru. (ONG)

Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »