Mrdreofzhongwenxi’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Arsip untuk Desember, 2007

PT Martaraja Persada

Ditulis oleh mr dre di/pada Desember 25, 2007

Sekarang ini, gue udah kerja di sebuah perusahaan IT di Jakarta ini. Kami menyediakan berbagai komputer dengan berbagai spesifikasi dengan harga murah. Barang bisa dipesan single atau bisa juga borongan (harga borongan pastinya lebih murah). Jadi untuk anda sekalian yang membutuhkan komputer/notebok baru atau second, bisa hubungi saya di 08568845295 atau 02193574417 untuk pemesanannya. Lewat reply di sini atau email ke saya
di dede_zaif@yahoo.com juga bisa.

Contoh aja, untuk notebook dengan spek core2duo udah bisa harga di bawah harga 6 juta, bahkan mungkin lebih murah lagi (merek yang kami sediakan minimal axio, tapi biasanya Acer atau IBM dan merek-merek lainnya tergantung pesanan anda).

Kami juga menyediakan jasa untuk pembuatan website untuk perusahaan anda dengan harga yang murah, konsultasi IT, pembuatan server, analysis sistem dan security dan layanan IT lainnya. Kami selalu mencoba meningkatkan pelayanan kami dan memuaskan semua keinginan pelanggan.

Ditulis dalam Promosi Usaha | Leave a Comment »

Mobil dijual… BMW 520i

Ditulis oleh mr dre di/pada Desember 25, 2007

Bmw520i kl 94, 90rb KM, Full Black -pelg pelg black, Original BMW parts, M racing series, 2000cc, automatic 5gigi, pajak hidup,sangat terawat & mulus abiz…

Harga 50 juta. Masih bisa nego. Sistemnya siapa cepat dia dapat. Barang bisa dilihat di kukusan teknik UI.

Ditulis dalam Promosi Usaha | Leave a Comment »

Usaha terbaru demi KEMAJUAN BANGSA!

Ditulis oleh mr dre di/pada Desember 7, 2007

Teman-teman. Mulai bulan Januari mendatang, kami akan launching lembaga bimbingan private. Namanya Duta Ilmu Private. Jadi kalo ada yang pengen ngajar-ngajar, atau punya murid yang perlu diajar (adik, tetangga dll) bisa hubungin gue. Dijamin belajarnya fun, kualitas pendidik juga pasti oke (karena pendidiknya kita training berkala lo). Gak rugi deh…

Untuk pendaftaran pendidik atau murid hubungi 02193574417/08568845295

Ditulis dalam Promosi Usaha | Leave a Comment »

Cari Qurban Murah dan Mudah?

Ditulis oleh mr dre di/pada Desember 7, 2007

Cabang usahaterbaru yang saya geluti sekarang ini adalah hewan qurban. Yup.. saya  sekarang jualan kambing, domba & sapi dengan harga yang terjangkau (lu olang boleh bandingin toko sebelah lah…). Barang bisa diantar ke lokasi yang diinginkan. Gampang dan murah!

Berikut daftar harga hewan-hewannya:

Kambing: 680 rb (20 – 25kg) setiap kenaikan 5 kg, kita kenakan biaya tambahan 120 ribu.(kira-kira tambah 24 ribu per kilonya)

Domba: 600 rb (kira-kira 20 kg. Harga per kilo tambahan 30 ribu)

Sapi: Berat 230 kg harga 6,5 juta. Berat 275 kilo harga 7 juta. Kalo yang paling gede (350-400 kilo) harganya 10 juta.

Boleh liat toko sebelah. Ini sudah masuk ongkos kirim lo… Jangan ragu untuk mesen ya.

Langsung aja di 021-93574417 atau 0856-8845295 (Adre).

Ditulis dalam Promosi Usaha | Leave a Comment »

Hubungan Kemitraan Strategis Tiongkok-Indonesia by Prof. Liang Liji (Beijing University) diambil dari milis

Ditulis oleh mr dre di/pada Desember 5, 2007

1.Tradisi Kebudayaan Tiongkok Dalam Kebijakan Luar Negerinya Di
 Zaman Feodal

Sejak zaman dahulu Tiongkok adalah negara agraris yang terbesar,
 terkuat dan termaju di Asia Timur dan tradisi kebudayaannya telah berdampak
 luas ke negeri-negeri di sekitar. Secara ringkas tradisi kebudayaan
 Tiongkok boleh diungkapkan dalam dua kata,iaitu berpangkal pada “?” dan
 berakhir pada “?”. Apa yang dimaksudkan dengan kata “?”
 itu?Konfusius (Kong Hu Zu) menjelaskan: “????” (“Yang dimaksudkan
 dengan “?” ialah bersayang-sayangan”), iaitu antara manusia dengan
 manusia hendaklah bersayang-sayangan. Kemudian Konfusius menandaskan lagi:
 “????,????” (Apa yang diri sendiri tidak inginkan, janganlah
 lakukan kepada orang lain) dan“??????,??????” (“Jika diri sendiri
 ingin tumbuh, tumbuhkan pula orang lain; jika diri sendiri ingin makmur,
 makmurkan pula orang lain). Dan kata “?” berarti
 rukun-damai-harmonis, itulah yang dijadikan tujuan terakhir yang hendak dicapai melalui
 upaya “?”. Maka Konfusius berkata: “???,???”(Dalam mengupayakan
 tata kesopanan, yang diutamakan adalah rukun-damai-harmonis). Konfusius
 menandaskan: “??????,??????”(Orang berbudi luhur menuntut
 rukun-damai-harmonis dengan menampung keragaman. Orang berbudi rendah menuntut
 keseragaman tanpa mengenal rukun-damai-harmonis). Dunia ini memang
 multilateral dan pluralistis, tiap pihak mempunyai pendirian, sikap dan visi
 sendiri berdasarkan keadaan dan kepentingan yang berbeda-beda. Hanya
 dengan mengakui keragaman dalam perbedaan dan saling sayang-menyayangi,
 hormat-menghormati, tenggang-menengang barulah bisa mencapai
 rukun-damai-harmonis.. Sebaliknya kalau menolak keragaman dan tiap pihak menuntut
 keseragaman dengan mengeksklusifkan pihak yang berlainan, maka dunia
 akan penuh konflik dan permusuhan. Dilihat dari inti falsafahnya memang
 banyak persamaan dengan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika 

Di zaman feodal tradisi kebudayaan Tiongkok yang mengutamakan rukun-
 damai-harmonis itu tentu tidak terlepas dari wawasan feodalisme yang
 egosentris. Bangsa Tionghoa di zaman purba menganggap “Langit” adalah
 yang maha kuasa dan maha pencipta. Langit telah mengutus Putranya untuk
 menguasai jagat. Maka kaisar zaman feodal selalu menganggap dirinya
 adalah “??” (Putra Langit)yang merajai seluruh jagat. Kaisar feodal
 Tiongkok menganggap dirinya sebagai “Kaisar Sejagat” yang
 berkewajiban membina rukun-damai-harmonis melalui hubungan yang disebut
 “??-????”(Hubungan Negara Metropolitan dengan Negara Vasal melalui
 Penyembahan Upeti). Menurut anggapan kaisar feodal, Tiongkok adalah “Negara
 Atasan” yang berkewajiban melindungi keamaan dunia di sekitar, sedangkan
 negara-negara di sekitar adalah “Negara Bawahan” yang merupakan
 pagar pelindung. Bagi kaisar feodal Tiongkok yang penting adalah
 kedudukannya sebagai “Kaisar Sejagat” diakui dan dijunjung oleh
 negeri-negeri di sekitar melalui penyembahan upeti, dan untuk menggalakkan
 penyembahan upeti kaisar Tiongkok menjalankan kebijakan “????”?(sembahan
 sedikit dibalas anugerah banyak). Sedangkan bagi “Negara Vasal”,
 yang penting adalah dengan menjunjung Tiongkok sebagai “Negara
 Metropolitan” mereka akan mendapat pengiktirafan dan penganugerahan berlipat
 ganda dari dinasti feodal Tiongkok, sehingga kedudukannya dan
 keamanannya dapat dijamin oleh negara terbesar dan terkuat di zaman itu. Wawasan
 feodalisme yang egosentrik itu juga terpancar pada raja-raja Melayu di
 zaman feodal. Misalnya dalam Sejarah Melayu ketika muncul kerajaan
 Melayu yang besar, sering diikuti dengan kalimat yang berbunyi:”Maka
 adalah kerajaan baginda itu, segala raja-raja dari masyrik lalu ke maghrib
 sekaliannya takluk kepada baginda.” Jadi itu sudah menjadi sifat dan
 tabiat umum bagi kaisar atau raja feodal yang menganggap dirinya
 teragung di sejagat dan semua takluk kepadanya. Dan kaisar feodal Tiongkok
 selalu menganggap bahwa dunia yang rukun-damai-harmonis hanya bisa
 direalisasi melalui tatanan “Hubungan Negara Metropolitan dengan Negara
 Vasal melalui Penyambagan Upeti”.

Sejak Dinasti Qin dan Han berhasil menyatukan seluruh Tiongkok dan
 mendirikan negara kesatuan feodal yang terbesar dan terkuat di Asia Timur
 pada dua ribu tahun lebih yang lalu, maka mulailah dibina “Hubungan
 Negara Metropolitan dengan Negara Vasal melalui Penyembahan Upeti”,
 terutama di kasawan Asia Timur Laut dan Asia Tenggara. Hubungan resmi
 antara Tiongkok dengan Nusantara juga dimulai pada zaman itu, demikian yang
 dicatat dalam Hou Han Shu (Kepustakaan Dinasti Han Belakangan) :

 Pada tahun ke 6 Tahun Yong Jian (131 M—Pen) Ye Diao yang di
sebelah luar Re Nan, rajanya Bian mengirim utusan untuk menyembahkan upeti.
Kaisar menganugerahi Raja Diao Bian dengan cap kempa serta kain sutera dewangga.

Negeri yang disebut “Ye Diao” ialah “Javadvipa” , nama rajanya
 yang disebut “Diao Bian” ialah “Devavarman”. Jadi sejak tahun
 131 Tiongkok sudah mulai menjalin hubungan resmi dengan Indonesia dan
 hubungan itu terus berkelanjutan dari dinasti ke dinasti. 

Sampai abad ke-7 antara Dinasti Tang dengan Sriwijaya mulai ada
 pertukaran kebudayaan yang mendalam, terutama melalui agama Buddha. Dan
 perintisnya adalah Yi Jing (I-Tsing), pendeta Buddha Dinasti Tang yang
 termahsyur. Pada tahun 671 Yi Jing dalam pelayarannya ke India singgah di
 Sriwijaya dan segera dikagumkan oleh kemajuan kebudayaan Buddhanya.,
 demikian dikisahkan kesan pertamanya dalam Sarvastivada Karma:

Adapun di kepulauan Laut Selatan banyaklah orang yang menjunjung
agama (Buddha). Demikian pula rajanya sangat mengutamakan kebajikan.
Di bandar Sriwijaya jumlah para biksu mencapai ribuan orang. Semuanya
giat menuntut ilmu dan menjalankan ibadat. Apa yang dipelajarinya tidak
berbeda dengan yang dipelajari di Tiongkok. Tata caranya dan upacara
peralatannya pun semua sama belaka.

Tadinya Yi Jing tidak ada rencana untuk tinggal lama di Sriwijaya,
 tetapi setelah melihat begitu maju kebudayaan Buddhanya dan begitu baik
 suasana dan sarananya untuk studi, maka ia pun mengambil keputusan untuk
 tinggal 6 bulan lebih lama “guna mempelajari pramasastra Sanskrit”.
 Ternyata hasilnya sangat memuaskan sehingga ia menganjurkan kepada para
 pendeta agung Dinasti Tang yang berniat menuntut ilmu ke Tanah Barat
 (India) “seeloknya singgah dahulu di negeri itu (Sriwijaya) barang
 satu dua tahun untuk mempeljari tata caranya, kemudian barulah pergi ke
 India”. Menurut catatan Yi Jing, di antara pendeta Dinasti Tang yang
 melawat ke India dengan mengambil jalan laut tidak kurang dari 19 orang
 yang pernah mengunjungi Sriwijaya atau Kalinga dan ada yang senang
 sekali tinggal di Sriwijaya sehingga tidak mau kembali lagi. Waktu pulang
 dari India, Yi Jing menetap lagi di Sriwijaya sampai belasan tahun
 lamanya, karena beliau mengganggap Sriwijaya lebih baik sarananya untuk
 dijadikan basis studi agama dan tempat menyalin kitab Buddha Tripitaka yang
 dibawanya dari India sejumlah 500,000 gatha lebih. Dalam sejarah
 Tiongkok Yi Jing mungkin adalah orang pertama yang menyadari pentingnya
 peranan bahasa dalam pertukaran kebudayaan, beliau telah secara khusus
 memperkenalkan beberapa nama pendeta Dinasti Tang yang memahami bahasa
 Kunlun, iaitu bahasa Melayu kuno yang berlaku di Sriwijaya. Jadi bahasa
 Melayu kuno sudah dikenal di Tiongkok sejak abad ke-7.

2.Hubungan Tiongkok-Nusantara Mencapai puncak Kejayaannya Di
 Zaman Dinasti Ming 

Setelah Dinasti Ming berhasil menggantikan Dinasti Yuan Mongol pada
 tahun 1368, maka kaisar pertamanya Ming Tai Zu kembali melanjutkan tradisi
 kebudayaan Tiongkok yang mengutamakan rukun-damai-harmonis dengan
 memulihkan “Hubungan Negara Metropolitan dengan Negara Vasal melalui
 Penyembahan Upeti”. Kaisar Ming Tai Zu mengirim utusan ke Asia Tenggara
 untuk memaklumatkan kebijakan luar negerinya, iaitu “hidup berukunan
 dengan negeri tetangga, tidak saling menyerang, yang mayoritas tidak
 menindas yang minoritas, yang kuat tidak menggencet yang lemah, agar bisa
 sama-sama menikmati perdamaian dan kesejahteraan dunia” 

Kaisar Ming Cheng Zu yang bertakhta pada tahun 1403 meneruskan dan
 mengembangkan kebijakan luar negeri yang digariskan oleh Ming Tai Zu dengan
 asas-asas yang lebih jelas: 

1) Sebagai “Kaisar Sejagat”, Kaisar Ming berkewajiban melaksanakan
 kehendak Langit, menebarkan kebajikan dan kesusilaan ke seluruh dunia.

2) Kaisar Ming berkewajiban untuk memajukan kesejahteraan agar umat
 sejagat bisa mendapatkan rejeki, tiada yang kehilangan tempat bernaung.

3)     Umat sejagat harus tunduk kepada Kodrat Langit, taat pada titah
 Kaisar Ming, masing-masing mengikuti tata kesopanan dan menjaga diri,
 tidak boleh melampaui batas.

4)     Di bawah pengawasan Kaisar Ming, semua negeri hidup rukun-damai-
  harmonis, tidak boleh yang mayoritas menindas yang minoritas dan yang
 kuat menggencet yang lemah.

5) Tujuan terakhir yang hendak dicapai ialah semua negeri bisa
 sama-sama menikmati ketentraman dan kesejahteraan dunia.

Demi menerapkan kebijakan luar negerinya dan meningkatkan kewibawaannya
 Ming Cheng Zu merasa perlu secara besar-besaran mengirim misi muhibah
 ke negeri-negeri di sekitar. Pada tahun 1405 Zheng He untuk pertama
 kali ditugaskan memimpin suatu armada terbesar di dunia yang terdiri dari
 100 sampai 200 buah kapal besar dan kecil serta anak buah (termasuk
 perwira dan prajurit) sebanyak 27,000 sampai 28,000 orang, berlayar
 mengejuju ke Samudra Barat. Semenjak itu Zheng He berturut-turut telah
 memimpin armadanya ke Samudra Barat sampai tujuh kali banyaknya. Nusantara
 adalah daerah yang pasti dikunjunginya dan juga yang paling lama
 disinggahinya. Boleh dikatakan yang paling sukses dalam menerapkan asas-asas
 kebijakan luar negeri Dinasti Ming adalah di kawasan Nusantara.
 Kedatanngan Armada Laksamana Zheng He telah membuktikan kepada rakyat di
 Nusantara bahwa Tiongkok adalah suatu negara besar yang memiliki tradisi
 kebudayaan yang mengutamakan rukun-damai-harmonis, menjunjung tinggi tata
 kesopanan, tahu menghormati kedaulatan negeri lain dan tidak pernah
 berniat mengekspansi atau mencampuri urusan negeri lain. Maka kedatangan
  Laksamana Zheng He di Nusantara selalu mendapat sambutan yang hangat
 sekali..Tiap tiba di suatu negeri, di samping membacakan Surat Titah
 Kaisar, Laksamana Zheng He pun menyerahkan bingkisan anugerah dari Kaisar
 Ming kepada raja di tempat sebagai tanda iktikad baik untuk bersahabatan,
 lalu mengadakan perniagaan langsung yang dapat memenuhi kebutuhan
 masing-masing. Selain itu Laksamana Zheng He masih membuat banyak kebajikan
 yang dapat mendatangkan ketenteraman dan kesejahteraan bagi negeri yang
 dikunjunginya. Oleh sebab itu sampai sekarang bekas peninggalan
 sejarahnya masih dipelihara baik dan terus diziarahi penduduk, cerita dan
 dongeng rakyat mengenai Zheng He juga terus tersebar dari mulut ke mulut
 tak pernah putus. Pada tahun 2006 di banyak tempat di kawasan Nusantara
 telah digelar secara besar-besaran upacara dan seminar mengenai
 Peringatan 600 Tahun Pelayaran Zheng He ke Samudra Barat. Itu menunjukkan
 bahwa rakyat di Nusantara masih terus mengenangkan jasa-jasa sejarah
 Laksamana Zheng He yang mendatangkan persahabatan, ketentraman dan
 kesejahteraan.

Laksamana Zheng Ho telah meletakan landasan sejarah dalam hubungan
 silaturahmi Tiongkok-Nusantara. Jasa sejarahnya melingkupi banyak bidang:

Pertama. Meningkatkan keakraban hubungan Tiongkok-Nusantara ke
 peringkat optimal di zaman feodal. Banyak contoh yang membuktikan bahwa
 kedatangan Laksamanan Zheng He dengan armadanya semata-mata untuk menebarkan
 benih persahabatan, tidak mengancam siapa pun, maka mendapat sambutan
 yang sangat antusias dan positif dari negeri-negeri di Nusantara. Banyak
 raja di Nusantara yang mengambil inisiatif untuk sendiri langsung
 berkunjung ke Tiongkok demi menjalin hubungan silatuhrami yang lebih akrab.
 Raja-raja yang berkunjun ke Tiongkok pada membawa rombongan dalam
 jumlah besar-besaran. Pertama yang datang berkunjung adalah Raja Brunei
 dengan rombongannya sebanyak 180 orang. Kemudian disusul oleh Raja Melaka
 dengan rombongannya yang memecahkan rekor sejarah, iaitu sebanyak 540
 orang lebih. Kemudian disusul lagi oleh Raja Sulu dengan rombongannya
 sebanyak 340 orang lebih. Sedangkan raja-raja lainnya yang tidak sempat
 datang berkunjung sendiri pada mengirim utusan. Kunjungan langsung yang
 secara besar-besaran dari raja-raja dan utusan-utusan raja di Nusantara
 itu telah berhasil mempererat hubungan silaturahmi kedua pihak..

Kedua. Memberantas bajak laut di Laut Selatan demi memperlancar
 hubungan upeti dan perniagaan antara Tiongkok dengan Nusantara. Pada masa awal
 Dinasti Ming, Laut Selatan Tiongkok tidak aman, sering diganggu oleh
 bajak laut sehingga hubungan upeti dan perniagaan antara Tiongkok dengan
 Nusantara tidak bisa berjalan mulus. Di antaranya yang paling ganas
 dan sewenang-wenang adalah kawanan bajak laut yang bersarang di
 Palembang, gembongnya bernama Chen Zu Yi. Pada tahun 1407 Armada Laksamana Zheng
 He berhasil membasminya dan Laut Selatan Tiongkok menjadi aman dan
 tenteram, kegiatan-kegiatan utusan upeti dan perniagaan bilateral dapat
 berjalan dengan lancar tanpa ada gangguan lagi. 

Ketiga. Membina perdamaian dan keadilan untuk menstabilkan situasi di
 kawasan Asia Tenggara. Kaisar Ming menganggap dirinya sebagai “Kaisar
 Sejagat” yang berkewajiban membela perdamaian dan keadilan
 antarbangsa, maka ketika terjadi persengketaan atau krisis perang, negara yang
 bersangkutan lebih suka mencari bantuan kepada Kaisar Ming untuk
 mendamaikannya. Dan Kaisar Ming pun selalu membela perdamaian dan keadilan
 dengan berdiri di pihak yang lemah dan yang dicederakan, berusaha
 menyelesaikan persengketaan dan krisis perang dengan jalan damai tanpa
 menggunakan kekerasan. 

    Keempat. Medorong pertukaran kebudayaan antara Tiongkok dengan
 Nusantara. Armada Laksamana Zheng He yang jumlah anggotanya mencapai
 27,000-28,000 orang, tiap kali mengunjungi Nusantara tentu bergaulan dengan
 penduduk setempat untuk berbeli-belian dan beramah-ramahan. Pergaulan
 sehari-hari itu pada hahikatnya merupakan pertukaran kebudayaan, karena
 antara kedua pihak selain saling sapa-menyapa, juga mencoba saling
 mengenal adat-istiadat dan kebudayaan masing-masing, agar bisa menambah
 saling pengertian dan mempererat persahabatan. 

Selaras dengan semakin akrabnya hubungan silaturahmi dan semakin
 kerapnya pertukaran kebudayaan antara Tiongkok dengan Nusantara, makan
 semakin diperlukan pula bahasa tampil ke muka memainkan peranannya sebagai
 alat berkemunikasi yang efektif. Oleh karena itu, di zaman Dinasti Ming,
 iaitu 600 tahun lebih yang lalu, bahasa Melayu secara resmi sudah
 diajarkan di lembaga pendidikan bahasa asing yang disebut “Si Yi Guan”.
 Dan bagaimana ditekankan pentingnya bahasa asing itu, dapat dilihat
 dari sebuah motonya yang berbunyi: ”Ilmu penyalinan bahasa asing itu
 boleh bertahun tidak digunakan, tetapi tidak boleh sehari tidak
 disiapkan”. Pada masa hampir bersamaan telah lahir pula kamus Mandarin-Melayu
 yang terawal dalam sejarah Tiongkok. Semua itu menandakan bahwa hubungan
 Tiongkok-Nusantara telah mencapai puncak kejayaannya yang gemilang di
 zaman Dinasti Ming.

Kelima. Ikut menyebarluaskan agama Islam di Nusantara. Sebagaimana
 diketahui, Laksamana Zheng He adalah seorang Muslim saleh yang berasal dari
 keluarga Muslim turun-temurun, ayahnya seorang haji yang telah
 menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Pada masa itu agama Islam sudah mulai
 tersebar di Nusantara, maka kedatangan Laksamana Zheng He di Nusantara tentu
 memberi dampakan pula pada penyebaran agama Islam. Rupanya bukan
 kebetulan kalau masanya agama Islam menyebar luas di Nusantara bertepatan
 dengan masanya Laksamana Zheng He 7 kali berlayar ke Samudra Barat. Dan
 sumbangan Laksamana Zheng He dalam hal itu sudah banyak dibahas oleh
 sarjana Indonesia.

Keenam. Menggalakkan orang Tionghoa berimigrasi ke Nusantara.
 Kedatangan Armada Laksamana Zheng He di Nusantara telah mengamankan jalan laut
 dari gangguan bajak laut, itu telah memudahkan orang Tionghoa,
 terutama yang dari provinsi Guangdong (Kanton) dan Fujian (Hokkian) merantau
 ke Nusantara. Disamping itu, anggota Armada Laksamana Zheng He yang
 sempat datang di Nusantara juga telah menyuguhkan banyak informasi konkrit
 yang langsung menjelaskan tentang keadaan dan kehidupan perantau
 Tionghoa di Nusantara sehingga semakin banyak orang yang tertarik untuk
 merantau ke “Nanyang” (Laut Selatan), lebih-lebih ketika keadaan dalam
 negeri sedang terpuruk.

Hubungan Tiongkok-Nusantara yang rukun-damai-harmonis pada abad ke 15
 itu kemudian tidak dapat dilanjutkan lagi karena keterbatasan sejarah.
 Di zaman feodal. “Hubungan Negara Metrotolitan dengan Negara Vasal
 melalui Penyembahan Upeti” dapat diterapkan dan Laksamana Zheng He bisa
 tujuh kali melangsungkan pelayaran ke Samudra Barat karena dijamin dan
 didukung oleh kekuatan dan kekayaan negara. Begitu juga perniagaan
 melalui upeti yang menguntungkan sepihak itu bisa dipertahankan juga karena
 dijamin dan didukung oleh kekuatan dan kekayaan negara. Perniagaan
 melalui upeti itu pada hakekatnya bukanlah perniagaan komoditi bebas dan
 “sembahan sedikit dibalas anugerah banyak” sama sekali bertentangan
 dengan hukum ekonomi pasar. Dan lagi tujuan Armada Laksamana Zheng He
 ke Samudra Barat bukanlah untuk membuka pasar dunia, maka tidak
 mendorong Tiongkok dari ekonomi natural beralih ke ekonomi pasar, dari
 masyarakat feodalis beralih ke masyarakat kapitalis. Apabila kekuatan dan
 kekayaan negara Dinasti Ming sudah tidak mampu menanggung beban itu, maka
 kaisar feodah Tiongkok pun tidak bisa memainkan peranan sebagai “Kaisar
 Sejagat” lagi dan pelayaran Laksamana Zheng He ke Samudra Barat pun
 terpaksa dihentikan dan tidak ada penerusnya lagi. 

Pada abad ke-16 kaum penjajah Barat mulai membentangkan sayapnya ke
 Timur, seluruh Nusantara berangsur menjadi negeri jajahan Barat dan
 Tiongkok pun berangsur menjadi negeri setengah jajahan. Berabad-abad lamanya
 hubungan resmi antara Tiongkok dengan Nusantara terputus, kedua bangsa
 mengalami nasib malang yang sama. Maka dalam sejarah perjuangan
 nasional kedua bangsa selalu saling menaruh simpati dan saling
 sokong-menyokong hingga mencapai tujuan nasional masing-masing.

Berdirinya Republik Indonesia dan Republik Rakyat Tiongkok seusai
 Perang Dunia II membuka halaman baru dalam sejarah hubungan kedua bangsa,
 dan dibukanya hubungan diplomatik RI-RRT pada tahun 1950 dan
 diselenggarakannya Konferensi Asia-Afrika pada tahun 1955 merupakan tonggak sejarah
 bagi kebangkitan bangsa Asia-Afrika. Tetapi waktu itu Perang Dingin
 sudah menjalar, dunia terpecah belah dalam blok-blok yang bertentangan.
 Untuk mengembangkan hubungan diplomatik yang baru dibuka dan menjamin
 suksesnya Konferensi AA, Indonesia dan Tiongkok perlu berkerja sama
 dengan baik dalam menyelaraskan sikap pendirian dan kepentingan yang
 berbeda-beda. Dan sejarah telah membuktikan bahwa suksesnya Konferensi AA
 tidak bisa dipisahkan dari peranan signifikan yang dimainkan oleh Indonesia
 dan Tiongkok. Pertama Presiden Indonesia, Soekarno, dalam pidato
 pembukaannya menandaskan bahwa “kita, peserta konperensi, berasal dari
 kebangsaan yang berlainan, begitu juga latar belakang sosial dan budaya,
 agama, sistem politik, bahkan warna kulit pun berbeda-beda, namun kita
 dapat bersatu, dipersatukan oleh pengalaman pahit yang sama akibat
 kolonialisme, oleh keinginan yang sama dalam usaha mempertahankan dan
 memperkokoh perdamaian.” Pidato Prersiden Soekarno itu telah menetapkan
 nada dasar Konferensi AA. Kemudian Perdana Menteri Tiongkok, Zhou En Lai,
 juga menandaskan bahwa Delegasi Tiongkok datang untuk mencari
 persepahaman bukan perselisihan, menuntut persatuan dalam perbedaan dan
 berpegang pada lima prinsip koeksistensi secara damai, iaitu menghormati
 kedaulatan dan keutuhan wilayah masing-masing, tidak saling mengagresi, tidak
 saling mencampuri urusan dalam negeri, persamaan derajat dan saling
 menguntungkan, hidup berdampingan secara damai. Pernyataan PM Zhou itu
 telah berhasil mengatasi keprasangkaan dan menghindarkan perpecahan yang
 akan menghambat kelancaran Konferensi AA. Sikap pandangan dari kedua
 pimpinan negara itu boleh dikatakan sesuai dengan tradisi kebudayaan yang
 mengutamakan  rukun-damai-harnonis dalam keragaman dan itu kemudian
 dituangkan ke dalam Dasa Sila Bandung.

Setelah menempuh jalan sejarah yang berliku-liku kini Perang Dingin
 sudah berakhir dan dunia pun sudah memasuki era globalisasi.. Dalam
 menghadapi peluang dan tantangan globalisasi Tiongkok dan Indonesia serta
 negara ASEAN lainnya semakin menyadari pentingnya mempererat hubungan
 kedua pihak yang sudah bersejarah. Maka pada tahun 1997 Tiongkok dan ASEAN
 pun sepakat untuk memajukan lebih lanjut hubungan bilateral ditinjau
 dari prospek strateris bersama, berusaha membina hubungan kemitraan yang
 saling percaya-mempercayai. Pada kesempatan itu Presiden Tiongkok,
 Jiang Ze Ming menegaskan:”Persahabatan tradisional yang sudah lama,
 pengalaman nasib sejarah yang mirip, keinginan sama untuk mempertahankan
 perdamaian dan mengembangkan ekonomi merupakan pondamen sejarah yang
 penting dan real dalam memperkuat kerja sama yang bersahabat dan saling
 percaya-mempercayai”.

Kemudian pada bulan Oktober tahun 2003, dalam rangka menghadiri
 Konferensi ke 7 ASEAN + 1 di Bali, Perdana Menteri Tiongkok, Wen Jia Bao,
 menandatangani deklarasi bersama yang menyatakan bahwa Tiongkok dan ASEAN
 bersetuju menjalin hubungan kemitraan strategis. Pada kesempatan itu PM
 Wen Jia Bao mengumumkan tiga asas kebijakan luar negeri Tiongkok, iaitu
 “hidup rukun bersama negara tetangga”. “hidup aman bersama
 negara tetangga” dan “hidup makmur bersama negara tetangga”. “Hidup
 rukun bersama negara tetangga” berarti hidup berdampingan secara
 rukun-damai-harmonis dengan negara sekitar untuk memelihara kestabilan dan
 ketentraman serantau. “Hidup aman dengan negara tetangga” berarti
 saling hormat-menghormati dan percaya-memercayai, menyelesaikan segala
 perselisihan dan persengketaan dengan jalan negosiasi secara damai agar
 terpelihara keamanan dan perdamaian serantau. “Hidup makmur bersama
 negara tetangga” berarti menperluas kerjasama ekonomi dengan mendorong
 terbentuknya Region Perdagangan Bebas ASEAN-Tiongkok agar bisa
 mencapai kemajuan dan kemakmuran bersama. Asas yang pertama dan yang kedua
 boleh dikatakan adalah pelanjutan dan pengembangan dari kebijakan luar
 negeri Dinasti Ming yang mengutamakan rukun-damai-harmonis, tetapi
 terdapat perbedaan yang hakiki pula, yakni Tiongkok sekarang sudah bukan
 negara feodal yang egosentrik; Tiongkok adalah negara berkembang terbesar
 yang sedang memperjuangkan masyarakat harmonis dan dunia harmonis.
 Tiongkok dengan konsekuen menyatakan tidak akan menjadi “kepala” untuk
 selama-lamanya dan menolak hegemonisme.  Sedangkan asas yang ketiga,
 iaitu “Hidup makmur bersama negara tetangga” justeru ditujukan untuk
 mengatasi kelemahan fatal dari kebijakan luar negeri Dinasti Ming yang
 mengabaikan faktor kemajuan ekonomi. Dengan dilaksanakannya asas yang
 ketiga, kebijakan luar negeri yang mengutamakan rukun-damai-harmonis itu
 baru bisa diletakkan atas dasar ekonomi pasar yang maju dan teori
 perkembangan yang ilmiah. 

   Indonesia adalah negara ASEAN yang terbesar, jumlah populasinya
 melebihi 2/3 dari jumlah populasi ASEAN. Indonesia dan Tiongkok merupakan
 dua negera terbesar di Asia Timur yang hubungannya sudah berlansung
 ribuan tahun lamanya. Dan dalam Konferensi AA tahun 1955 kedua negara telah
 berkerja sama dengan baik dan memainkan peranan yang penting sekali
 dalam menyukseskan konferensi tersebut. Demi membangun negara
 masing-masing dan memajukan hubungan strategis Tiongkok-ASEAN, adalah penting
 sekali untuk meningkatkan lebih lanjut hubungan kedua negara. Maka pada
 tanggal 5 April tahun 2005 dalam rangka memperingati 55 tahun dibukanya
 hubungan diplomatic RI-RRT dan 50 tahun diadakannya Konferensi AA,
 Presiden RRT, Hu Jingtao, dan Presiden RI ,Susilo Bambang Yudhoyono, telah
 mengeluarkan deklarasi bersama tentang membina hubungan kemitraan
 strategis Tiongkok-Indonesia dengan mengemukakan 28 pasal pelaksanaannya di
 tiga bidang: 1, kerja sama di bidang politik dan keamanan; 2, kerja sama
 di bidang ekonomi dan perkembangan; 3, kerja sama di bidang soaial dan
 budaya. Kalau ditinjau dari proses sejarah, hubungan kemitraan
 strategis Tiongkok-Indonesia itu memang sudah sewajarnya dan pada saatnya
 karena landasan sejarahnya sudah diletakkan di zaman Laksamana Zheng He dan
 di waktu Konferensi AA, sekarang seluruh syaratnya sudah mateng.
 Hubungan kemitraan strategis Tiongkok-Indonesia itu tentu akan memainkan
 peranan positif dan konstruktif bukan hanya bagi Tiongkok dan Indonesia,
 juga bagi ASEAN dan Asia Timur sebagaimana dikatakan oleh Duta Besar RI,
 Sudrajat, dalam sebuah wawancara: “Populasi Indonesia dan Tiongkok
 kalau dijumlah telah mencapai 1,500 juta orang lebih. Kita akan
 bersama-sama berusaha membangun Asia supaya menjadi lebih aman dan makmur”. 

Belum lama berseleng dalam rangka kunjungan kenegaraan Presiden Susilo
 Bambang Yudhoyono ke RRT telah ditandatangani pula perjanjian ekonomi
 di berbagai bidang yang mencapai 7,5 miliar US dollar jumlahnya.
 Seterusnya Presiden Hu Jingtao dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah
 berkomitmen pula untuk meningkatkan nilai perdagangan menjadi 30 miliar US
 dolllar pada tahun 2010. Sudah tentu semua itu akan menambah kuatnya
 kepercayaan politik dan memperluas kerja sama kedua negara di segala
 bidang. Kalau ditambah lagi dengan jumlah populasi negara ASEAN lainnya,
 maka seluruhnya akan mencapai 2000 juta orang lebih. Boleh dibayangkan
 kalau semua sudah bertekad bulat untuk menjadi mitra strategis dan
 memperjuangkan terbentuknya Region Perdagangan Bebas ASEAN-Tiongkok, maka
 pada tahun 2010 di dunia ini akan lahir satu pasar dunia yang terbesar
 dengan penduduknya sebanyak 2000 juta orang, GDPnya mencapai 200 miliar
 US dollar dan volume perdagangannya mencapai 120 miliar US dollar. Dan
 lagi hubungan kemitraan strategis itu dilandasi oleh tradisi Kebudayaan
 Timur yang mengutamakan rukun-damai-harmonis dalam keragaman, maka apa
 yang diidam-idamkan di zaman Dinasti Ming, iaitu “semua bangsa
 sama-sama menikmati perdamaian dan kesejahteraan dunia” ada kemungkinan
 terealisasi di zaman kini.

Ditulis dalam cina | Leave a Comment »

Pencarian Kebenaran

Ditulis oleh mr dre di/pada Desember 3, 2007

Banyak yang berkata bahwa mereka tahu mana yang benar, bahkan seringkali mengklaim bahwa mereka adalah pihak yang benar dan pihak lain salah. Mereka dengan nyamannya menunjuk ke batang hidung orang lain sedangkan kesalahan sebesar gajah yang ada pada dirinya tidak terlihat dan tiada terasa. Sebenarnya yang manakah yang benar dan mana yang salah? Apakah ada kebenaran yang mutlak? Kesalahan yang mutlak?

Mungkin kalau kita menurut kepada ego diri kita sendiri maka kita akan selalu menjadi benar (biar dalam kasus orang yang rendah diri dia lebih sering salah). Coba sekali-kali kita melihat lebih dalam lagi dan mengoreksi diri dengan kepasrahan diri yang mutlak, yang tidak menginginkan diri kita menjadi bena, tapi menginginkan kebenaran menjadi satu dengan kesadaran diri. Niscaya kita akan melihat sebuah gambaran dunia yang lebih luas dan lebih indah.

Sang guru besar Lao Zi mengatakan dengan indahnya bahwa tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah. Yang ada hanyalah yang menurut kita benar dan menurut kita salah. Jadi bagaimana kita bisa mengetahui yang benar dan yang salah? Apa yang menjadi patokan dan sandaran diri kita untuk menilai benar dan salah?

Menurut beliau, yang bisa membuat kita menilai benar dan salah bukanlah lagi sebuah pikiran belaka, tapi sebuah oikiran yang bersih dari segala prasangka. Memang, sebelum kita akan menilai sesuatu, biasanya kita akan melihatnya terlebih dahulu dari sudut pandang yang kita geluti, dari apa yang kita ketahui. Cara ini memang tepat, akan tetapi, perlu diingat bahwa semua hal tidak sepenuhnya baik dan tidak juga sepenuhnya buruk.

Apa yang selama ini kita “ketahui” akan dipengaruhi oleh konstruksi sosial yang melatarbelakangi kita, yang menjadkan pendapat kita tidak lagi murni pendapat kita, tapi pendapat kita dan pendapat latar belakang kita. Orang kapitalis mungkin akan langsung menganggap jelek begitu mendengar kata sosialis. Islam fundamentalis akan langsung menjadi jijik begitu mendengar kata demokrasi dan banyak contoh lain.

Yang perlu diingat adalah bahwa kita harus menghilangkan segala prasangka. Dialektika tercipta hanya jika ada dua pemikiran yang berbeda, dan tentu saja akan menuju sintesa yang lebih baik dari dua tesis sebelumnya. Jadi, mari saling menghargai dan saling melengkapi. Hilangkan sifat fundamentalis dari diri kita dan sama-sama melihat ke arah “jalan tengah” yang lebih baik.

Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »